Penelusuran: Dari Mars Adabiah hingga H. Abdul Madjid Karim

adabiah - 1975 koleksi Astuti AH

Sekolah Adabiah di tahun 1975 – koleksi Astuti AH

Tulisan berikut ini berawal dari rasa keingintahuan saya sebagai alumni SD dan SMP Adabiah di Padang lulusan 1970 untuk mencari tahu pencipta lagu MARS ADABIAH.
Mars Adabiah boleh dikatakan sebagai lagu kebangsaannya murid-murid Adabiah sejak dulu hingga sekarang, yang liriknya sederhana namun sarat makna seperti dibawah ini:

Sekolah kami
Sekolah Adabiah
Didirikan oleh Syarikat Oesaha
Guna Kemuliaan Nusa dan Bangsa
Reff:
Dimana juga kelak kami berada
Adabiah diingat sedia kala
Hiduplah, Hiduplah Sekolah Kami
Adabiah yang sangat kami cintai
Menuntut ilmu kami bersungguh hati
Supaya tercapai maksud nan suci
Nasehat guru kami junjung tinggi
Pada ibu pertiwi kami berbakti
*back to Reff

Begitu berkesannya lagu tersebut di hati para alumninya, sehingga ketika MARS ADABIAH dikumandangkan baik dalam upacara sekolah maupun pada pertemuan alumni, seluruh pesertanya akan larut bernyanyi mengikuti iramanya yang seolah memiliki roh dan semangat belajar.

Sebetulnya saya sudah cukup lama berupaya mencari tahu, siapa gerangan yang menciptakan Mars Adabiah, legendaris tersebut, karena banyak alumni Adabiah yang saya kenal tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu siapa sang penciptanya.

Namun akhirnya rasa penasaran saya terjawab secara tidak sengaja. Ketika secara sambil lalu saya menyampaikan kepada ibu bahwa saya sedang mencari informasi tentang pencipta Mars Adabiah, beliau menjawab dengan enteng, “kalau ngga salah lagu itu ciptaan guru kami di Adabiah, namanya pak Marah Kaharuddin.” Kebetulan ibu saya bersekolah di perguruan Adabiah semasa masa pendudukan Jepang.

Informasi ini merupakan entry point penting dan berharga bagi saya, sehingga langsung saya tindak lanjuti. Saya pun menghubungi mamanda Djohari Kahar (saat ini merupakan anggota Dewan Pembina Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah) untuk mengkonfirmasi hal ini. Jawaban beliau persis sama dengan pernyataan ibu saya. Almarhum bapak Marah Kaharuddin yang berprofesi sebagai guru Adabiah adalah pencipta Mars Adabiah.

Temuan awal ini belum sepenuhnya memuaskan saya. Siapakah sosok Marah Kaharuddin itu sesungguhnya? Kenapa beliau yang menciptakan lagu tersebut?

Pertanyaan yang menggelayut di kepala ini pun segera terjawab ketika beberapa minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke Yogya. Di Yogya saya menyempatkan diri bersilaturahmi dengan paman, Prof. Arma Abdoellah M.Sc (eks Rektor IKIP Yogya, usia 90 tahun) di kediaman beliau di Bulaksumur Yogyakarta. Beliau adalah adik kandung alm. Ibu Sumatri Abdoellah yang mengabdikan diri sepanjang hayatnya sebagai pendidik di perguruan Adabiah.
Prof. Arma juga membenarkan ucapan ibu saya mengenai sosok pencipta Mars Adabiah. Beliau malah mengatakan kalau saya ingin mendapatkan informasi lebih jauh, bisa menghubungi anak alm. bapak Marah Kaharuddin yang berdomisili di Yogya, yaitu bapak Adril Kahar. Tidak menunggu dua kali, saya pun meminta nomor telepon untuk bisa menghubungi pak Adril.

Singkat cerita, saya berhasil berbicara via telepon dengan bapak Adril Kahar dan memperoleh informasi berharga dari beliau, bukan hanya mengenai sosok ayahandanya saja, tetapi juga sedikit kisah pendirian perguruan Adabiah.

Marah Kaharuddin gelar Marah Maharajolelo

Menurut penuturan pak Adril, ayahandanya dulu adalah guru di Adabiah yang menyukai seni musik. Ketika itu Adabiah belum memiliki lagu sekolah yang bisa menjadi penyemangat para muridnya. Sehingga dewan guru menyepakati untuk menggubah sebuah mars sekolah yang bisa digunakan sebagai identitas perguruan. Untuk tujuan ini, almarhum Marah Kaharuddin yang punya hobi musik diberikan tugas untuk menciptakan Mars Adabiah. Sehingga sejak saat itu hingga sekarang, Mars Adabiah selalu berkumandang setiap kali dilakukan upacara sekolah ataupun pertemuan para alumni perguruan Adabiah.

Tidak banyak yang tahu bahwa istri almarhum Marah Kaharuddin merupakan saudara se-ayah dengan istri almarhum Abdoellah St. Bandaro Panjang, guru Adabiah masa pendudukan Jepang yang merupakan ayahanda alm. ibu Sumatri Abdoellah. Abdoellah St. Bandaro Panjang adalah kakak kandung Mr. Assaat yang pernah menjadi Acting Presiden RI tahun 1950 dengan ibukota di Yogya.
Lebih jauh disampaikan oleh bapak Adril bahwa ibunda beliau (istri alm. Marah Kaharuddin) dan istri alm. Abdoellah St. Bandaro Panjang adalah anak dari alm. Syekh. Abdul Madjid Karim, seorang pedagang dan ulama yang merupakan salah satu sahabat dekat Syekh Dr. Abdullah Ahmad yang turut membantu pendirian Madrasah Adabiah. Ini temuan yang menarik bagi saya, sehingga berupaya untuk menggali lebih jauh mengenai sosok H. Abdul Madjid Karim, kakek bapak Adril Kahar.

Abdul Madjid Karim

Syekh. H. Abdul Madjid Karim (Foto: Koleksi keluarga)

Siapakah Sosok H. Abdul Majid Karim?

Dari penuturan bapak Adril Kahar (74 tahun), sosok kakeknya, H. Abdul Madjid Karim semasa hidupnya adalah seorang pedagang dan ulama asal Padang Panjang yang merupakan teman dekat Dr. H. Abdullah Ahmad. Almarhum bersama beberapa pedagang Minangkabau lainnya turut membantu Dr. H. Abdullah Ahmad mendirikan Madrasah Adabiah (1909) dan Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI – 1919). Namun beliau belakangan lebih banyak aktif mengajar di PGAI.
Pernyataan ini tampaknya memang betul karena nama Abdul Madjid tercantum dalam artikel SURAU JEMBATAN BESI: CIKAL BAKAL LAHIRNYA PENDIDIKAN ISLAM MODERN DI PADANGPANJANG oleh Witirianto (Staf pengajar Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas) pada paragraf berikut ini:
Di Padang Panjang sendiri juga terdapat sistem pendidikan surau yang bersifat halaqah. Yang paling terkenal di antaranya adalah Surau Jembatan Besi yang didirikan oleh Haji Abdul Madjid. Sistem pendidikan di Surau Jembatan Besi berkembang menjadi sistem madrasah, setelah masuknya Haji Abdullah Ahmad dan Haji Rasul mengajar di surau ini sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1904. Sebelumnya pelajaran yang diberikan di surau ini dilakukan secara tradisional dengan pelajaran-pelajaran yang memang biasa diberikan seperti fiqhi dan tafsir Al-Qur’an yang merupakan pelajaran utama dalam surau tersebut.”

Ini agak berbeda dengan beberapa artikel rujukan lain yang tidak mencantumkan nama Abdul Madjid (yang berasal dari Padang Panjang) dalam sejarah Surau Jembatan Besi. Namun yang pasti, persahabatan H. Abdul Madjid dengan Dr. H. Abdullah Ahmad sudah berlangsung lama, sebelum pendirian Madrasah Adabiah di tahun 1909.

Keikutsertaan H. Abdul Madjid dalam pendirian PGAI dapat dilihat dari kutipan artikel Buya Mas’Oed Abidin dibawah ini:
PGAI didirikan bersama sama oleh ulama Sumbar, antara lain Syekh DR. H. Abdul Karim Amarullah, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Moesa Parabek, Syekh H. Daud Rasyidi Balingka, Syekh Kadir Muhammad Air Bangis, Syekh Muhammad Zen Imam Batusangkar, Syekh Abdul Majid Karim Padang, Ustadz Zainuddin Labay Yunus Padangpanjang, Haji Ahmad Yunus Padang, Tuanku Imran Limbukan Payakumbuh, Haji Ahmad Kotogadang Bukittinggi, Haji Abdul Rasyid Maninjau, Haji Muhammad Noer Kadli Sumpur, Pakih Makhudum Solok, Haji Sutan Darab Pariaman dengan Presidennya adalah Dr Abdullah Ahmad. Sejak berdirinya PGAI menjadi tempat diskusi dan bertukar pikiran para ulama semacam Islamic Center of Excellence.

Kedekatan H. Abdul Madjid dengan H. Abdullah Ahmad juga terlihat dari kutipan artikel berjudul “Syekh Abbas Abdullah” yang ditulis ulang oleh Muhammad Ilham di salah satu situs Internet berikut ini:
Kemudian pada tahun 1918, majalah Al-Munir diterbitkan kembali di Padang Panjang dengan nama Al-Munir el-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Jamiah Sumatera Thawalib Padang Panjang dua kali dalam satu bulan. Rais Tahrirnya adalah Zainuddin Labay el-Yunusiy, al-Mudirnya H. Syu’ib, Muharrirnya Abdul Hamid dan Annazirnya Basa Bandaro Padang. Pembantu-pembantunya terdiri dari H. Ahmad Khatib, H. Rasyid dan Abdul Madjid Sidi Sutan. Sedangkan pemimpinnya adalah HAKA, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang.

Perlu diketahui bahwa almarhum H. Abdul Madjid Karim setelah menikah lebih dikenal sebagai H. Abdul Madjid Sidi Sutan, dengan penambahan gelarnya, Sidi Sutan.

Nama dan foto Abdul Madjid Karim juga muncul dalam tulisan Pramono (Akademi Pengajian Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2015) yang berjudul WACANA MAULID NABI DI MINANGKABAU: KAJIAN TENTANG DINAMIKANYA BERDASARKAN NASKHAH-NASKHAH KARYA ULAMA TEMPATAN.

foto abdul madjid maninjau

Secara berurutan dari kiri Zainoeddin Labay El-Joenoesy, Abdul Karim Amrullah (HAKA), Syekh Muhammad Thaher Djalaloeddin, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad dan Abdul Madjid Karim. (Foto koleksi khutubkhannah, Sungai Batang, Maninjau)

Dari data literatur yang saya temui serta hasil hasil wawancara dengan bapak Adril Kahar, Prof. Arma Abdoellah, bapak Saif Abdoellah dan ibu Tini Abdoellah, saya menyimpulkan bahwa almarhum. H. Abdul Madjid Karim memang merupakan sahabat dekat Dr. H. Abdullah Ahmad yang semasa hidupnya bahu membahu mengembangkan syiar Islam di ranah Minangkabau tempo doeloe.

Generasi ke-2 dari H. Abdul Madjid Karim yang membaktikan dirinya di dunia pendidikan ada tiga orang:

  1. Abdoellah St. Bandaro Panjang (menantu beliau), mengajar di H.I.S. dan SMA Adabiah
  2. Marah Kaharuddin (menantu dan juga keponakan beliau), mengajar di H.I.S. dan SMA Adabiah. Pernah menjadi Direktur SMP 1 Padang.
  3. A. Gaffur (menantu karena menikah dengan keponakan beliau) mengajar di SNI (Sekolah Nippon Indonesia). Pernah aktif dalam kepengurusan YSO Adabiah.

Generasi ke-3 (cucu H. Abdul Madjid Karim) yang mengabdi di Adabiah juga ada tiga orang:

  1. Sumatri Abdoellah (SMP dan SMA Adabiah)
  2. Asti Abdoellah (SMP Adabiah, kemudian pindah ke SMP 3 Padang)
  3. Drs. H. Hasrul Kahar (anak Marah Kaharuddin) (SMA Adabiah dan Pengurus YSO Adabiah 1990-2002)

Semoga jiwa kepeloporan dan semangat mendidik masyarakat yang berlandasan Islam dari para pendahulu kita ini bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi muda Islam khususnya di ranah Minangkabau.

(Aswil Nazir, Ciputat, 27 Desember 2017)

Nara Sumber dan Bahan Rujukan:

  1. Wawancara (dilakukan di bulan Desember 2017)
    • Prof. Arma Abdoellah (90 tahun)
    • H. Adril Kahar (74 tahun)
    • H. Djohari Kahar SH. MS.I  (88 tahun)
    • dr. H. Saif Abdoellah (76 tahun)
    • Sartini Abdoellah (72 tahun)
  2. Artikel:

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under education, History

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s