Sistem Informasi Rumah Sakit, bukan sekedar solusi teknologi

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri presentasi satu perusahaan yang menjelaskan software sistem informasi rumah sakit yang mereka tawarkan.
Sekilas terlihat memukau, setidaknya bagi eksekutif yang awam dalam dunia teknologi informasi.

Dalam presentasinya disebutkan betapa aplikasi sistem informasi tersebut mampu  mewujudkan paperless system di rumah sakit sehingga seorang dokter yang memeriksa pasien di poliklinik misalnya, tidak perlu lagi menuliskan resep di kertas dan menyerahkannya ke pasien seperti praktek yang umum. Demikian pula dengan dokumen yang terkait data pasien, cukup dipantau dan di-update melalui layar komputer. Resep yang dibuatkan dokter akan ditulis di layar komputer yang secara otomatis akan meneruskan informasi ini ke apotik dan kasir. Dengan proses ini,  pemasukan rumah sakit dari pembelian obat-obatan diyakini akan meningkat. Soalnya, prosedur seperti diatas akan menggiring pasien untuk membeli obat dari apotik milik rumah sakit.

Otomatisasi ini tentu saja akan memangkas proses peredaran dokumen antara bagian administrasi dan dokter yang biasanya dilakukan dengan bantuan office boy. Kini semuanya akan ditangani oleh komputer.

Jika Anda memiliki asuransi kesehatan tertentu, tidak perlu pusing. Semua akan ditangani di meja kasir yang akan berurusan dengan broker asuransi kesehatan Anda.  Dalam hitungan menit, mereka akan menilai klaim pengobatan (dan laboratorium maupun biaya rawat inap) yang dikirim pihak rumah sakit secara elektronik untuk diberikan persetujuan atau ditolak.

Pasien cukup duduk manis dan bersabar sebelum diminta membayar selisih biaya jika klaimnya lebih besar dari biaya yang ditanggung asuransi.

Itulah antara lain fungsi utama sistem informasi rumah sakit (hospital information system). Memang masih ada fitur-fitur tambahan lainnya seperti interkoneksi dengan unit-unit pendukung lainnya di rumah sakit, seperti ruang operasi, instalasi rawat inap, instalasi gawat darurat, dapur, inventory, kepegawaian hingga manajemen.

Namun kalau melihat realita saat ini, khususnya rumah sakit yang dikelola pemerintah (pusat atau daerah), sistem informasi yang digunakan sebagian besar masih jauh dari ideal. Pasien masih dilayani dengan proses kerja yang manual. Sejak dari pendaftaran hingga pembayaran serta pengambilan obat di apotik, belum ada mata rantai proses yang terintegrasi. Pada beberapa rumah sakit swasta, kondisinya agak berbeda. Rumah sakit swasta yang besar kondisinya sudah jauh lebih baik, prosesnya sudah mulai terintegrasi. Tetapi apakah semua prosesnya sudah terpadu dan bisa dikatakan 100% paperless? Jawabannya, belum.

Kenyataannya semua rumah sakit di Indonesia saat ini belum memiliki sistem informasi yang telah mengintegrasikan semua proses yang ada. Khususnya unit-unit seperti laboratorium darah, X-Ray, CT-Scan dan MRI memiliki peralatan electronic medical records yang masih berdiri sendiri, belum terintegrasi kedalam database hospital information system. Sehingga seorang dokter yang ingin mengetahui hasil pemeriksaan darah atau hasil CT-Scan pasiennya, belum bisa memonitor hasilnya dari layar komputer secara online.

Untuk mengintegrasikan keseluruhan mata rantai proses di rumah sakit jelas dibutuhkan biaya yang tidak sedikit karena implementasinya lebih rumit dibandingkan sistem informasi industri di sektor komersial.

Tapi yang sering paling dilupakan orang adalah aspek non-teknis dari implementasi sebuah sistem, apapun sistem itu. Dalam konteks tersebut ada contoh menarik yang ingin saya angkat dalam tulisan singkat ini.

Beberapa hari lalu saya berobat mata ke salah satu rumah sakit swasta langganan saya di selatan kota Jakarta.

Ketika melapor ke meja Resepsionis,  saya dipersilahkan langsung ke poli mata yang berada di lantai lain. Saya pun menuju ke poli mata dan mendaftar. Kebetulan pasien tidak banyak sehingga saya tidak perlu berlama-lama menunggu. Seusai diperiksa, saya langsung menuju apotik sambil membawa resep obat yang diberikan dokter. Seperti biasa, saya langsung menyodorkan kertas resep ke petugas di loket “penerimaan resep.”

“Bapak silahkan ambil nomor dulu,” ujar staf apotik.

“Oh.. pakai nomornya. Dimana ambil nomornya?” tanya saya agak kaget.

“Ada disana pak,” katanya lagi sambil menunjuk kearah lobi utama rumah sakit.

Saya mengiyakan dan berjalan kearah yang ditunjuknya. Agak bingung juga, dimana lokasi pengambilan nomor yang dimaksud. Akhirnya saya bertanya kepada salah satu staf rumah sakit yang lewat, dimana lokasi pengambilan nomor untuk apotik.

Ternyata lokasinya berada di tengah-tengah lobi, cukup besar. Tadinya saya sangka itu semacam papan pengumuman atau petunjuk biasa, seperti yang umumnya dipajang di perkantoran. Tapi itu adalah layar sentuh “Sistem layanan rumah sakit” (lihat gambar diatas) yang dilengkapi dengan printer mini untuk mencetak resi nomor urut. Jadi pasien yang ingin memperoleh layanan apotek, kasir dan laboratorium mesti mengambil nomor urut terlebih dahulu.

Selesai mengambil resi nomor urut, saya kembali ke staf apotek dan menyerahkan resinya.
Tapi dijawab lagi, “bapak tunggu dipanggil ya, sesuai nomor urutnya.”

Waduh malu juga, saya seperti orang ngga mengerti aturan. Saya lalu melihat ke sekeliling, apa ada papan informasi atau layar yang memberikan informasi nomor urut berapa yang sedang dilayani. Biasanya di counter teller bank ada terpampang layar monitor yang menampilkan nomor antrian yang tengah dilayani. Tapi disini tidak ada. Jadi kita harus pasang kuping baik-baik agar bisa segera maju ke loket penerimaan resep, kalau dipanggil petugas apotek.

Sambil menunggu dipanggil, saya amati dua ibu-ibu yang tertipu seperti saya karena tidak mengambil nomor urut. Sekarang saya bisa sok tau dengan menunjukkan cara mencetak resi nomor urut ke ibu-ibu tersebut.

Selesai urusan di apotik, saya tidak mau membuat ketololan lagi. Saya balik menuju panel sistem layanan rumah sakit dan memencet tombol untuk mengambil resi antrian kasir.

Tampaknya fasilitas layanan kasir jauh lebih baik. Ada 3 loket kasir dan dipojok terpajang layar monitor yang menampilkan nomor urut ketika dipanggil ke loket pembayaran. Ini mirip dengan layanan di bank-bank. Ketika giliran saya dilayani oleh kasir, terdengar seseorang menegur disamping saya. Oh, rupanya salah seorang teman kuliah saya yang menemani anak isterinya berobat. Dia lagi menggerutu karena ditolak sewaktu mau melakukan pembayaran ke kasir, karena belum mengambil nomor antrian. He he …. ternyata teman saya pun mengalami masalah yang sama.

Saya iseng bertanya ke kasir, sudah berapa lama sistem layanan baru ini diterapkan? Dijawab oleh kasir bahwa sistem ini sudah digunakan hampir 2 bulan.

“Apa tidak ada petugas yang melayani dan memberikan penjelasan ke pasien di dekat pintu masuk?” tanya saya lagi.

“Mestinya itu tanggung jawab satpam,” kata sang kasir lagi.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa urusan sosialiasi sistem layanan rumah sakit diserahkan ke satpam? Apa karena aspek efisiensi?
Tapi ya itulah apa yang saya alami. Dalam 10 menit menunggu  dan dilayani kasir, ada 2 orang lagi yang terlihat gaptek dan harus dituntun bagaimana cara mengeluarkan nomor antrian. Oh saya salah, bukan gagap teknologi (gaptek), tapi lebih pas disebut gagap prosedur (gappro).

Disini terbukti bahwa implementasi sebuah sistem yang baru bukan melulu soal teknis dan kapabilitas sistem, tapi juga menyangkut sosialisasi agar penggunanya tidak kagok dan merasa lebih nyaman. Dalam konteks rumah sakit, penggunanya mencakup karyawan, dokter dan pasien.

Belakangan saya juga memperoleh informasi bahwa di rumah sakit lain di Jakarta Selatan yang sekitar dua tahun lalu telah menerapkan layanan sistem informasi terpadu (dimana dokter poliklinik langsung menuliskan resep di komputer), kini telah kembali ke proses tradisional, menuliskan resep di kertas.

Lho kok? Ya, rupanya banyak dokter yang merasa kurang nyaman kalau menuliskan resep di layar komputer. Cara tradisionil lebih nyaman, kata teman saya. Lagi pula,  dengan pola itu pasien bisa menebus obat di apotek luar rumah sakit.

Ini satu lagi aspek non-teknis yang tampaknya luput dari perhatian perancang sistem informasi rumah sakit. Implementasi sistem informasi yang benar tidak melulu bicara soal fungsi dan fitur, tapi juga harus peduli dengan kemudahan akses dan kenyamanan penggunanya.

Ciputat, 6 April 2012.

3 Comments

Filed under business, technology

Mengapa Demo Bisa Anarkis?

 

Melihat aksi-aksi demonstrasi belakangan ini khususnya yang menentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, banyak diantara kita yang merasa prihatin. Di era reformasi sekarang, mengkritisi kebijakan pemerintah dengan cara turun ke jalan-jalan itu sudah biasa. Namun yang disayangkan banyak pihak, aksi pengunjuk rasa ini telah mencederai prinsip demokrasi itu sendiri karena sudah mengarah kepada tindakan anarkis. Aksi-aksi melempari petugas dengan batu,  merusak fasilitas umum, menyandera kendaraan yang melintas di jalan dan bahkan membakar mobil dinas, membuat kita terperangah. Kenapa ini semua bisa terjadi?

Berbagai komentar pun muncul di media cetak dan elektronik, dari yang mengkritisi, mecerca namun juga ada yang membela. Bagi yang mengkritisi, demo anarkis dianggap sebagai tindakan yang telah merendahkan martabat bangsa, tidak berperikemanusiaan dan bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Memprotes pemerintah tidak harus bertindak brutal dengan mengganggu dan merusak fasilitas umum. Tindakan itu yang dilandasi semangat membela kepentingan rakyat, justru malah menyusahkan rakyat.

Sebagai bangsa yang bermartabat, mengapa kita tidak bersabar dan menahan diri dari tindakan yang dapat merusak moral bangsa. Bagaimana kita akan menunjukkan kepada dunia luar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, bangsa yang beretika dan santun?

Itulah antara lain hal-hal yang disesalkan anggota masyarakat yang tidak setuju dengan aksi protes  anarkis.

Namun di sisi lain, ada pula yang beranggapan bahwa hanya dengan cara seperti itulah pemerintah bisa disadarkan, bahwa ada kebijakan mereka yang harus dikoreksi. Dalam sejarah masa lalu, hanya dengan tindakan represif dan anarkis baru bisa memperoleh perhatian serius oleh penguasa. Bahwa akan berdampak adanya korban yang dirugikan bahkan korban jiwa, itu adalah konsekuensi logis dari sebuah perjuangan.

Aksi protes seperti yang kita lihat kemaren disebutkan sebagai letupan emosi rakyat yang selama ini aspirasinya tidak mendapat respon dari pemerintah. Pemerintah dinilai sibuk memikirkan kepentingan partai dan kelompok, bukan memikirkan rakyat. Ditambah lagi dengan tindakan represif dari aparat, itu justru ibarat minyak yang menyirami api.

Demo anarkis, sejak kapan?
Kalau kita mau jujur memotret sejarah perjalanan bangsa ini, aksi protes yang berbau anarkis sesungguhnya telah hadir sejak awal, bahkan sebelum republik ini berdiri.

Ketika para pejuang republik ini bangkit untuk memprotes penjajahan Belanda misalnya, mereka terkadang merusak dan menghancurkan fasilitas umum seperti jembatan dan bangunan lainnya.

Mungkin ada yang akan berdalih bahwa itu kan di era kolonial, dan kini kita hidup di jaman demokrasi yang seharusnya lebih beradab.

Pertanyaannya kini, apakah betul bahwa tindakan anarkis itu hanya monopoli masyarakat yang belum maju, masyarakat yang kurang terdidik?

Kalau jawabannya YA, lalu bagaimana kita bisa menjelaskan kasus kerusuhan dan penjarahan di Totenham, London Utara di tahun 2011 lalu?

Kerusuhan di Totenham, Inggris 2011.

Peristiwa itu disebut sebagai kerusuhan yang terbesar sepanjang sejarah di Inggris setelah Kerusuhan Brixton yang terjadi tahun 1995 dan Kerusuhan Broadwater Farm tahun 1985 yang menewaskan seorang kepala polisi. Kerusuhan Tottenham hanya dipicu oleh tewasnya seorang warga, Mark Duggan (29), oleh aparat kepolisian. Aksi protes yang dilakukan 200 orang segera  berubah menjadi tindakan anarki dan berakhir dengan kerusuhan, pelemparan, pembakaran, serta penjarahan.

Aksi-aksi protes yang terjadi di negara-negera Timur Tengah sesungguhnya tidak jauh berbeda. Lihat saja bagaimana anarkisnya para demonstran di Irak, Mesir dan Libya yang membuat kita bergidik.

Bagaimana agar demo anarkis tidak terjadi lagi?

Melihat sejumlah aksi protes, demo dan kerusuhan baik di negara yang terbelakang, negara berkembang dan bahkan di negara maju, substansi perilaku pelakunya sama saja. Aksi protes yang anarkis pasti akan merusak fasilitas yang ada disekitar lokasi tempat mereka beraksi. Tindakan represif yang dilakukan aparat seringkali malah membuat mereka lebih agresif dan brutal.

Kita bisa berteori bahwa seyogyanya seorang manusia yang berakal dan beradab, yang paham tentang kebaikan dan keburukan, yang relatif berpendidikan, tidak akan terpancing untuk bertindak brutal. Tetapi kerusuhan yang terjadi di Totenham membuat kita terhenyak. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Saya pribadi rasanya akan lebih mahfum kalau protes seperti itu terjadi di Papua yang masyarakatnya lebih terbelakang, bukan di negeri seperti Inggris.

Tapi ternyata ada alasan yang sangat mendasar dan logis yang menjelaskan terjadinya letupan emosi brutal mayoritas etnik kulit hitam Inggris dalam kerusuhan di tahun lalu.

Ivestigasi yang dilakukan setelah kerusuhan tersebut menduga adanya beberapa alasan di balik kerusuhan tersebut, yaitu ketidakserasian hubungan antara aparat kepolisian dan golongan etnik kulit hitam, tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, dan oknum-oknum oportunis yang memanfaatkan kesempatan untuk menjarah.

Saya jadi teringat pengalaman semasa kecil puluhan tahun yang lalu. Ketika itu saya punya seekor anjing kecil yang lucu yang biasa bermain di dalam rumah. Hanya di malam hari atau jika kami sekeluarga bepergian, anjing itu dikeluarkan dari dalam rumah.

Sekali waktu kami sekeluarga yang kembali dari bepergian merasa kaget ketika membuka pintu rumah.

Kain gordijn yang menutupi jendela semuanya cabik-cabik dan beberapa perlatan seperti sandal dan sepatu yang ada di ruang tamu tidak ada yang utuh, sudah berantakan. Tidak terlalu lama untuk menyadari penyebabnya karena di kursi terlihat anjing kecil piaraan saya sedang berbaring.

Anjing mungil yang lucu dan jinak ternyata bisa beringas dan brutal dengan merusak benda disekitarnya. Saya akhirnya bisa memakluminya. Seekor anjing yang terkurung di dalam rumah dalam keadaan terdesak (mungkin ingin buang hajat) bisa berperilaku brutal. Itu sangat hewani, seperti yang juga terjadi pada hewan sirkus yang menyerang pawangnya.

Bukannya ingin menyamakan manusia dengan hewan, tetapi apa yang dilakukan oleh para demonstran yang bertindak anarkis, kurang lebih memiliki alasan yang sama dengan cerita anjing kecil diatas.

Saya yakin bahwa masyarakat yang tidak tertindas, masyarakat yang sudah hidup dengan damai dan terpenuhi kebutuhan dasarnya, tidak akan bertindak anarkis. Bedanya manusia dengan hewan kan terletak pada akal. Itu yang membuat manusia bisa berpikir apakah tindakannya betul atau salah, apakah akan merugikan orang lain atau tidak. Namun dalam keadaan terdesak, seseorang yang merasa tertindas, ditekan dan dirugikan, secara logika akan bertindak brutal jika kesempatan untuk itu datang. Akalnya akan dikalahkan oleh emosi dan nafsunya karena ia berada dalam kondisi survival mode. Itu alasan yang bisa menjelaskan brutalnya aksi massa di tahun 1998 yang membuat pemerintahan Soearto akhirnya tumbang, terlepas dari adanya konspirasi politik dibelakangnya.

Apa bedanya dengan kondisi yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat saat ini? Sudah begitu kasat mata bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar betapa perilaku koruptif pejabat, penyalah gunaan wewenang dan kekuasaan merajalela. Keadilan hukum hanya retorika karena kekuasaan uang berada diatas segala-galanya. Apa sih yang tidak bisa dibeli di jaman reformasi ini? Untuk mengurus surat menyurat di kelurahan, pembuatan paspor, masuk sekolah, melamar jadi PNS, meraih jabatan hingga naik pangkat pun tidak lepas dari pengaruh uang.

Harapan kepada Pemerintah
Pemerintah yang diharapkan untuk mengayomi rakyat kecil justru berkiblat dan melindungi konglomerat hitam serta kepentingan partai/kelompok. Dana yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan rakyat banyak justru dikorupsi, bahkan hasil pajak pun disabet. Itu semua yang membuat mereka yang dirugikan akhirnya seperti mencari pelepasan, untuk mengungkapkan ledakan ketidak puasannya.

Jadi mari kita jujur saja melihat realitas ini, tidak perlu kajian doktor atau profesor untuk membuktikan hipotesa diatas.

Percayalah bahwa demo yang anarkis itu bisa dihindarkan andaikata

  • pemerintahan SBY bisa membuktikan bahwa mereka pro rakyat, bukan antek konglomerat hitam dan membela koruptor. Retorika “KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI” terbukti telah menjadi bumerang bagi partai penguasa,  dan menjadi tertawaan masyarakat.
  • pemerintah bisa membuktikan bahwa HUKUM berada diatas segala-galanya. Harus berani membasmi semua mafia yang bergentayangan di bumi nusantara ini, sejak dari mafia hukum, mafia ekonomi dll.
  • Presiden berani bertindak tegas dan responsif, bukan mencari simpati rakyat dengan berkeluh kesah. Itu sama sekali tidak produktif. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sang pemimpin, bukan hanya oleh rakyatnya.

Tiga poin itu rasanya akan dapat membawa bangsa ini kepada perubahan yang besar, yang lebih baik.

Semoga.

Ciputat, 31 Maret 2012.

Leave a Comment

Filed under social, society

Kemana raibnya sifat SABAR itu?

Kita sering mendengar dakwah agama dari ustad atau kiai yang memberikan tausyiah kepada jamaahnya yang berbicara soal SABAR. Tidak jarang mereka menyitir firman Allah dibawah ini:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153)

Mereka juga membantah ungkapan populer di kalangan masyarakat bahwa “sabar itu ada batasnya,” karena sesungguhnya sabar itu adalah perintah Allah swt yang tidak ada batasnya. Mungkin bisa dianalogikan dengan shalat lima waktu, hanya bedannya, sholat itu dilaksanakan  pada waktu yang telah ditentukan sedangkan sabar dilakukan ketika tertimpa musibah. Karena musibah itu akan sering terjadi selama hayat dikandung badan, maka bisa dimaklumi jika kesabaran itu tidak ada batasnya.

Namun apa yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya di kota-kota besar Indonesia, sungguh jauh panggang dari api.

Misalnya, seorang pengendara mobil seringkali mengalami kesulitan untuk memotong ke jalan utama di pertigaan atau persimpangan yang tidak dilengkapi lampu lalu-lintas. Pengendara kendaraan bermotor khususnya sepeda motor susah sekali diminta untuk berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kendaraan lain melintas atau memotong jalurnya. Atau hal sebaliknya juga sering terjadi, dimana kendaraan dari jalan kecil yang memotong jalan utama langsung menerobos begitu saja hingga menimbulkan kemacetan di persimpangan jalan. Kejadian lalu-lintas deadlock (terkunci) di persimpangan sudah biasa terjadi.

Dalam aspek lain, budaya antri pun sudah mulai pudar. Seorang teman menceritakan pengalamannya ketika antri akan membayar belanjaannya di minimarket pinggiran ibukota. Ketika tiba gilirannya untuk membayar ke kasir, ia menyodorkan snack belanjaannya untuk dihitung. Tapi mendadak ia melihat ada tangan menjulur dari sisi kirinya yang meletakkan belanjaan berikut uangnya di depan kasir. Kasir pun dengan tenangnya langsung menyambut dan menghitungnya di cash register. Teman ini hanya bisa melongo dan tidak mampu berkomentar. Dia yang berada di baris paling depan telah disalib dan sang kasir melayani pembeli yang menyerobot.

Cerita menyerobot di antrian banyak sekali kita dengar dan alami, seperti di counter check-in airport, atau loket-loket pembayaran umum lainnya. Sayangnya banyak diantara kita, baik sebagai yang diserobot maupun kasir loket misalnya,  tidak berani tegas untuk menegur si pelaku sehingga yang bersangkutan merasa bahwa dia tidak melakukan selalu yang salah.

Saya jadi teringat dengan kisah teman lain yang ketika berlibur ke Eropa dan sedang antri untuk naik bis umum juga disalib seseorang (turis negara lain). Karena sifatnya memang penyabar, dia membiarkan dirinya diserobot sehingga posisinya berada dibelakang orang tersebut. Namun apa yang terjadi? Seorang nenek yang antri agak jauh dibelakang mendadak maju mendatangi teman saya ini dan marah-marah. Si nenek marah kenapa membiarkan dirinya diserobot orang lain. Dia kaget dan ngga mampu berkata apa-apa dituding-tuding sama orang tua itu. Dalam hatinya teman ini berpikir, saya yang disalib orang, kok justru diomeli? Tapi ternyata memang begitulah budaya di negara maju, kalau hak kita dirampas dan diam saja, itu dianggap salah.

Jadi kalaulah mayoritas pengendara kendaraan bermotor mau meningkatkan rasa sabarnya, niscaya tingkat kemacetan di jalan raya akan jauh berkurang. Dalam banyak kasus kemacetan, saling serobot di jalanan, itu rata-rata disebabkan oleh tidak sabarnya si pengemudi. Ironinya, sifat tidak sabar ini yang dahulunya ditengarai hanya menjangkiti sopir angkutan umum yang berpendidikan rendah, kini sudah menular ke kalangan atas, kalangan elit.  Buktinya kini, kaum yang berduit di ibukota bisa menyewa voorijder untuk mengawal mereka agar terbebas dari kemacetan di jalan raya. Mau mengurus surat keterangan, KTP atau paspor, bisa disegerakan dan dimuluskan dengan bantuan fulus. Akibatnya, mereka yang mencoba untuk patuh dalam koridor aturan yang berlaku justru menjadi korban akibat lambatnya pelayanan yang mereka terima.

Itulah sekilas tentang perilaku masyarakat modern di kota-kota besar negeri tercinta ini. Sabar hanya merupakan kata-kata pemanis dan retorika dalam seminar-seminar spiritual atau dakwah yang dalam realitanya sudah jadi barang langka. Sabar menjadi sesuatu yang langka karena di-trigger oleh penyebab lain yaitu “ingin serba cepat” (instan). Kasus adanya rekening gendut PNS muda yang menghebohkan baru-baru ini sesungguhnya ada korelasinya dengan instan (ingin cepat kaya) dan tidak sabar dalam merintis jenjang karirnya.

Kenapa instan yang jadi kambing hitam? Mari kita ulas dalam bahasan berikutnya.

Ciputat, 30 Maret 2012.

Leave a Comment

Filed under Behavior / human being

IT Outsourcing: Yes, BUT . . . . .

Kebijaksanaan alih daya teknologi informasi yang selama ini lebih dikenal dengan istilah IT outsourcing, mulai banyak dilirik oleh korporasi yang  merasakan betapa ruwetnya mengelola infrastruktur teknologi informasi mereka. Ini sebuah fenomena umum yang sesungguhnya tidak muncul begitu saja, tetapi merupakan akibat dari beberapa penyebabnya.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi menyebabkan para penggunanya, termasuk korporasi harus memberikan perhatian ekstra terhadap pengelolaan sistem informasi dan infrastrukturnya yang berimplikasi kepada kendala sumber daya manusia TI dan investasinya. Padahal di sisi lain, perusahaan dituntut untuk membuat bisnisnya menjadi lebih efisien. Sehingga muncullah ide untuk menyerahkan pengelolaan sistem dan teknologi informasinya kepada pihak lain agar perusahaan dapat lebih fokus ke bisnis intinya.

Jadi perusahaan tidak perlu memikirkan investasi perangkat TI dan para staf yang selama ini berfungsi untuk mengelola infrastruktur TI tersebut. Apalagi statistik juga menunjukkan bahwa cukup banyak pengguna jasa teknologi informasi di perusahaan yang kurang puas terhadap layanan (dan biaya) TI yang dilakukan oleh departemen sistem informasinya (in-house IT department).

Selain itu ada pula pemicu eksternal yang membuat jasa alih daya makin dilirik, yaitu adanya dorongan regulasi dari otoritas sektoral yang menuntut perusahaan untuk menggunakan jasa teknologi yang berkualitas. Hal ini dapat kita lihat di sektor perbankan. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, menyebutkan bahwa bank wajib memastikan IT BCP (IT Business Continuity Plan) dapat dilaksanakan secara efektif agar kegiatan usaha tetap berjalan saat terjadi gangguan yang signifikan pada sarana teknologi informasi.

Di samping itu Bank juga wajib melakukan uji coba dan melakukan update terhadap IT BCP yang mereka miliki. Keharusan akan adanya IT Business Continuity Plan pada akhirnya membuat jasa Disaster Recovery Center (DRC) yang banyak ditawarkan oleh perusahaan alih daya menjadi semakin diminati.

Diatas kertas, para penyedia jasa alih daya (outsourcing) mengemukakan segala hal yang positif tentang pola operasional TI yang sedang tren ini sehingga banyak perusahaan yang memutuskan untuk melakukan alih daya tanpa perhitungan yang matang. Apa dampak dari pengambilan keputusan yang kurang matang tersebut? Dampaknya bisa beragam, dari hal-hal yang minor hingga hal yang fatal. Anda tidak percaya?

Dalam memutuskan untuk memilih opsi alih daya TI, suatu perusahaan seyogyanya mempertimbangkan 3 faktor penting: reputasi penyedia jasa alih daya, kualitas layanannya dan fleksibilitas harga. Dari tiga faktor ini nantinya harus dipertimbangkan juga komitmen tingkat layanan yang akan diberikan oleh penyedia jasa dan apa sanksinya jika komitmen layanannya (service level) tidak terpenuhi.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar keluhan salah seorang staf rumah sakit di daerah yang mengeluhkan tingkat layanan yang diberikan oleh perusahaan alih daya yang digunakannya. Kebijakan rumah sakit untuk memilih layanan alih daya TI yang menyeluruh (total IT outsourcing) diambil karena pihak manajemen berpikir bahwa itulah cara yang paling baik untuk mencapai efisiensi yang diharapkan. Jadi, dari infrastruktur TI seperti server hingga aplikasi “hospital information system” diserahkan bulat-bulat kepada perusahaan jasa alih daya tersebut.

Dalam perjalanannya sering terjadi gangguan aplikasi yang mengganggu kegiatan layanan rumah sakit dan respon dari staf alih daya dirasakan kurang responsif. Padahal dalam melayani pasien, rumah sakit mutlak membutuhkan bantuan sistem informasi, sebagaimana teller di bank dalam menghadapi nasabahnya. Sekali waktu keseluruhan sistem informasi rumah sakit mati total. Soalnya server perusahaan jasa alih daya tersambar petir sehingga harus di reparasi. Butuh waktu beberapa hari karena sparepartnya harus dipesan dulu ke vendor hardware., sementara sistem informasinya mati total.

Ada kisah lain, masih bicara tentang rumah sakit di tempat yang lain. Dalam upaya untuk meneliti tren jumlah pasien yang berobat termasuk jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien, staf rumah sakit yang ditugaskan mengalami kesulitan. Apa pasalnya? Data yang tersedia online di dalam sistem komputer hanyalah data satu tahun terakhir, karena data yang sebelumnya sudah tidak tersedia dalam sistem. Ya, tidak ada karena sebelumnya rumah sakit tersebut menggunakan jasa alih daya dari perusahaan yang berbeda.

Begitu kontraknya selesai setahun yang lalu, server dan database yang lama diangkut oleh pemiliknya. Pihak rumah sakit hanya diberikan setumpukan kertas printout computer yang diklaim sebagai data-data pasien yang pernah berobat dan dirawat. Ironinya, pihak manajemen tidak menyatakan keberatan atau komentar apa-apa dalam menyikapi situasi tersebut. Padahal, data-data pasien itu sesungguhnya adalah milik rumah sakit, bukan milik perusahaan penyedia jasa alih daya.

Kejadian-kejadian seperti diatas bisa terjadi karena satu alasan yang fundamental, yaitu karena pihak rumah sakit (sebagai pengguna jasa alih daya) tidak punya kompetensi yang cukup mengenai bagaimana seharusnya berbisnis dengan perusahaan jasa alih daya. Ada sejumlah aspek penting yang harus dipahami oleh klien, misalnya tentang SLA (service level agreement) serta hak dan kewajiban antara pengguna jasa dan pemberi jasa.

Memang IT oursourcing menawarkan banyak keuntungan bagi penggunanya, namun untuk merealisasikannya ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Implementasi IT outsourcing tidaklah semudah membalikkan tangan, dan bukan pula ibarat pekerjaan Sangkuriang yang bisa diselesaikan dalam satu malam. Disitulah peran konsultan TI akan dibutuhkan.

Ciputat, 29 Maret 2012

Leave a Comment

Filed under business

Seminar Sehari: IT Budgeting Made Easy

Perkembangan teknologi informasi yang pesat merupakan tantangan khusus bagi pimpinan puncak TI (Chief Information Officer) dan para manajer TI dibawahnya karena strategi TI dewasa ini sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari strategi bisnis. Bicara strategi bisnis berarti bicara tentang revenue dan profit. Sehingga pengetahuan manajer TI di bidang finansial, lebih spesifik dalam “Money Management” mutlak diperlukan. CIO dan eksekutif bisnis mengharapkan para manajer di jajaran bawahannya untuk membelanjakan biaya teknologi informasi secara bijaksana dan efektif.

Intisari Seminar

Peserta pelatihan ini akan diajak untuk membahas dan mendiskusikan bagaimana memperbaiki aspek finansial dari pengelolaan sistem informasi.

Dua aspek penting dalam pengelolaan biaya TI dalam perusahaan adalah perencanaan anggaran TI (IT budgeting) dan pengalokasian biaya TI (IT cost allocation). Kedua hal ini tidak banyak disinggung dalam materi-materi pelatihan TI, dan kalaupun ada hanya disinggung secara garis besar saja.

Pelatihan ini dengan dipandu oleh pembicara yang memiliki 30 tahun pengalaman di dunia teknologi informasi, dari segmen industri TI, perbankan dan manufaktur farmasi, akan menyoroti berbagai faktor biaya yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi di perusahaan. Dalam konteks ini pembicara akan memberikan contoh-contoh praktis yang “down to earth” dalam penyusunan budget TI, menentukan prioritas proyek TI, mekanisme pengalokasian / chargeback biaya-biaya TI yang belum banyak disentuh oleh manajemen TI di Indonesia.

Materi Seminar

  • Strategi untuk menjadikan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam pencapaian keunggulan kompetitif perusahaan
  • Panduan penyusunan budget TI yang efektif. Akan diberikan contoh praktis dalam menyusun budget TI dan proses penyeleksiannya.
  • Pemahaman “costing” di dalam dunia teknologi informasi
    - pengelompokan metodologi dan productivity metrics
    - mekanisme chargeback yang umum ditemui dalam praktek di lapangan
  • Bagaimana kiat untuk mengontrol biaya (cost) dengan melakukan kontrol terhadap depresiasi perangkat TI.
  • Perlunya keterlibatan user dalam proyek-proyek TI guna mengurangi resiko kegagalan proyek dan memaksimalkan investasi TI
  • Pembahasan mengenai alternatif layanan inhouse atau outsource, manfaat dan kerugiannya.

PEMBICARA
Aswil Nazir, praktisi IT dengan 30 tahun pengalaman dalam berbagai area teknologi informasi dan manajemen (Planning, Operations & Compliance).
Mengawali karirnya di IBM selama 20 tahun, dari posisi Systems Engineer hingga managerial. Selama 15 tahun berkarir sebagai Systems Engineer, Aswil berturut-turut menekuni teknologi mainframe, database, data warehouse, networking dan server consolidation. Pernah diberi tanggung jawab mengoperasikan data center untuk pelanggan IBM (customer support center) sebelum dipromosikan menjadi Manager Open Systems Center, lalu Manager Networking Solution & Services dan Manager Cross Server & Server Consolidation.
Tahun 2001 Aswil memutuskan untuk pensiun dini dari IBM dan beralih ke dunia perbankan, di Citibank Indonesia sebagai Vice President Technology Infrastructure selama 4 tahun. Dari Citibank beralih ke industri farmasi, PT Dexa Medica, sebagai Corporate IT Operations Manager yang bertanggung jawab dalam Data Center, Network, Desktop dan Helpdesk yang melayani sekitar 3000 karyawan yang tersebar di lebih dari 30 kantor cabang yang terhubung secara online dengan kantor pusat.
Pada tahun keempat diberikan kepercayaan menangani Perencanaan dan Tata Kelola (Governance) IT di holding Dexa Group, PT Inertia Utama hingga memasuki usia pensiun setelah pertengahan tahun 2010.
Kini selain sebagai konsultan IT, Aswil juga membantu mengajar di Universitas YARSI untuk mata-mata kuliah teknologi informasi.

Leave a Comment

Filed under business, education

Seminar: IT for Non-IT Executives

Memahami cara kerja dan manfaat teknologi informasi – bagaimana teknologi informasi dapat meningkatkan pekerjaan, departemen atau organisasi Anda.

Pesatnya perkembangan bisnis, ekonomi, teknologi, budaya dan politik telah membuat ketatnya persaingan di segala bidang, khususnya dalam aspek bisnis. Teknologi informasi (TI) yang telah dimanfaatkan oleh seluruh perusahaan dan institusi seharusnya memiliki peran yang strategis, namun dalam realitasnya belum sepenuhnya berfungsi optimal. Keterbatasan pemahaman pengguna terhadap teknologi informasi menyebabkan sebagian manajer dan eksekutif berpendapat bahwa TI hanyalah sebatas alat bantu, bukan sebagai business enabler. Cukup banyak manajer yang masih meragukan efektivitas pemanfaatan TI bagi perusahaannya. Bahkan ada yang merasa alergi berurusan dengan pihak TI, sehingga muncul istilah bahwa menerapkan TI ibarat memelihara anak macan yang pada akhirnya akan membebani perusahaan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Bagaimana memanfaatkan TI untuk mencapai “Keunggulan Kompetitif”
Perkembangan teknologi informasi yang pesat merupakan tantangan khusus bagi pimpinan puncak maupun para manajer yang berlatar belakang non-TI agar dapat memiliki pemahaman yang baik terhadap sistim informasi terkini.
Seminar intensif ini dengan dipandu oleh pembicara yang memiliki banyak pengalaman di dunia bisnis dan pemerintahan akan menyoroti faktor-faktor kritikal yang mempengaruhi teknik-teknik pemanfaatan teknologi informasi yang akan meningkatkan proses pengambilan keputusan pemimpin puncak maupun para manajer non-IT.

Intisari Seminar
Peserta seminar ini akan diajak untuk mendiskusikan bagaimana memperbaiki produktivitas dan pelayanan dengan meningkatkan pengetahuan di bidang teknologi informasi serta memaksimalkan hubungan kerja dengan departemen TI. Dalam seminar ini akan disinggung beberapa terminologi populer seperti CRM, ERP, TCP/IP, Legacy systems serta berbagai kategori software dan hardware. Selain itu akan dijelaskan pula bahwa implementasi teknologi informasi bukan sekedar otomatisasi aktivitas perkantoran, tetapi juga sebagai alat bantu untuk meraih peluang pasar, bernegosiasi, mendukung proses pengambilan keputusan serta merampingkan operasional perusahaan / institusi.

Siapa Yang Layak Hadir
Manajer, Direktur, Eksekutif serta para Profesional Bisnis yang ingin meningkatkan pemahamannya terhadap fungsi-fungsi teknologi informasi.

Cakupan Seminar

  • Pemahaman terhadap terminologi populer di dunia teknologi informasi saat ini
  • Tren teknologi informasi di era globalisasi
  • Penjelasan tentang bagaimana teknologi informasi dapat membantu pencapaian tujuan perusahaan / instansi
  • Pembahasan alternatif teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas di dalam unit bisnis dan tingkat korporasi
  • Pertimbangan investasi dan biaya dalam implementasi sistem informasi
  • Bagaimana bekerja secara efektif dengan departemen TI guna mengurangi resiko kegagalan proyek dan memaksimalkan investasi TI instansi / perusahaan
  • Memahami pertanyaan apa yang akan diajukan dan informasi apa yang dapat diberikan dalam upaya untuk memperbaiki kolaborasi antara departemen TI dan non-TI.

Materi Pembahasan

  • PemanfataanTI untuk meningkatkan produktivitas
  • Memberdayakan TI sebagai keunggulan kompetitif.
  • Kosa kata TI (IT vocabularies)
  • Memahami organisasi dan kegiatan departemen TI
  • Nilai ekonomi dari proyek-proyek terkait yang TI
  • Contoh praktis dalam menyusun budget TI dan proses seleksinya
  • Bagaimana eksekutif diluar TI dapat membantu agar departemen TI bisa meningkatkan efektivitas dan juga sebaliknya.
  • Melibatkan TI pada saat perencanaan anggaran dan bisnis
  • Layanan in-house dan outsourcing, manfaat dan resikonya
  • Bagaimana memahami aspek biaya (costing) dalam TI:
    - Pengelompokan dan metodologi serta productivity metrics
    - Beberapa pilihan mekanisme chargeback
  • Keterlibatan user dalam proyek-proyek TI

 

PEMBICARA
Aswil Nazir, praktisi IT dengan 30 tahun pengalaman dalam berbagai area teknologi informasi dan manajemen (Planning, Operations & Compliance).
Mengawali karirnya di IBM selama 20 tahun, dari posisi Systems Engineer hingga managerial. Selama 15 tahun berkarir sebagai Systems Engineer, Aswil berturut-turut menekuni teknologi mainframe, database, data warehouse, networking dan server consolidation. Pernah diberi tanggung jawab mengoperasikan data center untuk pelanggan IBM (customer support center) sebelum dipromosikan menjadi Manager Open Systems Center, lalu Manager Networking Solution & Services dan Manager Cross Server & Server Consolidation.
Tahun 2001 Aswil memutuskan untuk pensiun dini dari IBM dan beralih ke dunia perbankan, di Citibank Indonesia sebagai Vice President Technology Infrastructure selama 4 tahun. Dari Citibank beralih ke industri farmasi, PT Dexa Medica, sebagai Corporate IT Operations Manager yang bertanggung jawab dalam Data Center, Network, Desktop dan Helpdesk yang melayani sekitar 3000 karyawan yang tersebar di lebih dari 30 kantor cabang yang terhubung secara online dengan kantor pusat.
Pada tahun keempat diberikan kepercayaan menangani Perencanaan dan Tata Kelola (Governance) IT di holding Dexa Group, PT Inertia Utama hingga memasuki usia pensiun setelah pertengahan tahun 2010.
Kini selain sebagai konsultan IT, Aswil juga membantu mengajar di Universitas YARSI untuk mata-mata kuliah teknologi informasi.

 

Untuk info lebih jauh:
Hubungi 0811-199839 atau aswil@cbn.net.id

Leave a Comment

Filed under business, education

Your Lamang Tapai is Just a Phone Call Away

Lamang tapai yang dikenal luas sebagai makanan khas urang Minang sudah banyak diulas oleh berbagai pengamat dan penggemar kuliner. Makanan yang sering dijumpai pada acara-acara seperti manjalang mintuo, lebaran serta hidangan buka puasa ini sangat disukai masyarakat.

Kompas pernah menurunkan artikel yang bilang bahwa membuat lamang tapai itu tidak sulit. Lamang/lemang dari ketan putih dimasak dengan media bambu, santan dengan garam dan daun pandan secukupnya. Bambu untuk membakar lemang biasanya adalah jenis khusus yang diperuntukkan untuk itu. Bagian dalamnya dilapisi dengan daun pisang, kemudian ketan putih dimasukkan sesuai takarannya bersama santan kelapa. Proses selanjutnya adalah membakar bambu tersebut dengan posisi agak miring.
Sementara tapai terbuat dari ketan hitam. Proses fermentasinya dibantu oleh ragi yang bisa dibeli di pasar-pasar. Ketan, ragi dan gula pasir dicampur dengan sedikit air pada wadahnya. Proses peragian biasanya akan memakan waktu satu hingga dua hari.

Kedua jenis makanan ini biasanya disuguhi bersama-sama; lamang – tapai. Perpaduan rasa legit dari lamang dan manis menggigit dari tapai menjadikan makanan ini terasa aduhai.

Tapi kenyataannya, lamang tapai yang kita temui di rumah makan Minang atau yang dijajakan di emperen jalan Kramat Raya semasa bulan Ramadhan, rasanya bisa berbeda-beda. Ada yang lamangnya terasa agak keras atau tapainya berasa hambar atau malah terlalu asam.

Bagi penggemar lamang tapai di daerah Ciputat – Tangerang, kini tidak perlu bersusah payah mencari lamang tapai ke rumah makan tradisional Minang, ke pasar Bendungan Hilir atau ke daerah Senen di malam hari. Ada layanan antar lamang tapai yang diberikan oleh ibu Jusnimar, 48 tahun yang dengan senang hati mengantar pesanan anda ke rumah. Ini dia satu terobosan bisnis makanan tradisional Minang. Jusnimar yang biasa dipanggil uni Jus ini telah memanjakan pelanggannya dengan slogan Lamang tapai hanyalah sejauh jangkauan telepon. Anda tinggal pesan via handphone, uni Jus akan datang mengantarkan pesanan anda dengan motor hondanya. Asyik bukan?

Tapi bukan itu saja pasalnya. Citarasa lamang tapai yang ditawarkan ibu Jus patut kita acungkan jempol. Keempukan lamangnya dan taste tapainya asli mak nyus, sampai terasa ke pusat citarasa. Lamang tapai yang enak seperti ini hanya pernah saya temui di daerah Senen sekitar tahun 70-80an, yaitu lamang tapai bikinanmak Itam yang kini sudah tiada dan satu lagi lamang tapai bikinan tante saya yang juga sudah almarhum.

Semula saya duga uni Jus menjalankan bisnis turunan keluarga. Tapi dugaan ini salah besar. Uni Jus menuturkan bahwa ia belajar sendiri bagaimana membuat lamang tapai. Jadi learning by doing, learning by experience. Awalnya ia berjualan telor asin di kampungnya, Pariaman. Tapi karena dirasakan sulit untuk berkembang, uni Jus bersama suami hijrah ke Batam. Disanalah uni Jus mulai belajar membuat lamang tapai, mungkin juga karena ada peminatnya. Prinsip “alah bisa karena biasa” membuat lamang tapai bikinannya mulai dikenal orang. Setelah bermukim 3 tahun di Batam, uni Jus dan suami tergerak untuk mencoba peruntungan ke Kalimantan via Jakarta. Tapi ternyata malah nyantol di Jakarta.

Pelanggan awal uni Jus di Jakarta adalah warga Sariak-Bukittinggi di sekitar Ciputat. Ibu beranak dua yang mengaku tidak punya hari libur ini dengan rajin berjalan kaki menjinjing tas berisi lamang tapai, door to door. Kalau dihitung, sudah sepuluh tahun uni Jus menekuni bisnis lamang tapai ini.

Kini uni Jus sudah lebih mobile dengan menggunakan sepeda motor mengantarkan pesanan via telepon para pelanggannya. Sebelumnya ia sempat menggunakan sepeda untuk berkeliling. Tapi siapa duga, dari hasil penjualan lamang tapai ini uni Jus dan suami sudah bisa membuat rumah di kampung halamannya dan memiliki mobil juga. Hanya demi mobilitas di kawasan Ciputat, uni Jus lebih suka menggunakan motor Hondanya.

Karena masih penasaran, saya tanya lebih jauh mengenai omset jualannya. Ternyata setiap harinya rata-rata lamang yang laku sekitar 35-40 bambu, belum termasuk tapainya. Satu bambu dijual seharga Rp 25 ribu dan satu porsi tapai sebagai pasangan satu bambu juga dihargai Rp 25 ribu. Satu bambu kira-kira bisa melayani 12 porsi dengan potongan lamang yang tidak terlalu tipis. Jadi, lamang tapai satu bambu seharga Rp 50 ribu cukup untuk hidangan 12 orang.
Tapi ini belum termasuk pesanan khusus, misalnya ada hajatan seperti kenduri atau arisan keluarga. Itu bisa 30-40 bambu sendiri per order. Bisa tebak kira-kira berapa persen keuntungan berjualan makanan ini? Keuntungannya bisa 40-50% dari nilai penjualan. Jadi kalau omzetnya 40 bambu per hari, berarti penghasilannya 2 juta sehari dan keuntungan mencapai 1 juta. Keuntungan yang diraupnya sebulan minimal 20 juta, tidak kalah dengan gaji pegawai menengah swasta.
Tapi ini semua adalah hasil kerja keras selama bertahun-tahun dan beresiko juga karena ternyata uni Jus menekuni bisnis ini hanya berdua dengan suami plus satu pembantu. Jadi kalau ia sakit atau cuma tidur-tiduran di rumah, kran penghasilannya pun terhenti.
Tentunya masih banyak uni Jus – uni Jus lain yang bisa kita temukan di DKI dan kota-kota lain, tapi pembelajaran yang bisa kita peroleh adalah dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Jadi kombinasi dari kerja keras, jeli melihat pasar dan pilihan produk, membuat usahanya meraup sukses.
Semoga bermanfaat.

Ciputat, 10 Januari 2010.

2 Comments

Filed under Inspiration, Kuliner

Code of Conduct bagi Intelektual: Sekaranglah saatnya!

Belum lama ini saya terlibat obrolan ringan dengan seorang teman yang berkarir di salah satu lembaga penelitian ilmiah milik pemerintah. Ketika itu teman ini bercerita bahwa di kantornya ada wacana untuk membuat semacam kode etik ilmuwan yang setidaknya akan memasukkan dua hal:

  • tidak boleh berbohong
  • tidak boleh emosional dalam menyampaikan pendapat

Saya tertawa mendengarnya dan bertanya apa urgensinya karena statement itu terlihat begitu normatif, tidak spesifik. “Memangnya ada kasus apa, kok sampai harus bikin kode etik buat ilmuwan”, saya bertanya lebih lanjut.
Jawabannya singkat saja. “Kita hanya ingin memastikan bahwa sebagai ilmuwan, dia harus bersikap jujur di dalam profesinya, dan bisa berkomunikasi dengan elegan dalam menyampaikan serta mempertahankan pendapatnya”.
“Oh, ok. I got the point”, saya menyahutinya sambil manggut-manggut. Ingatan saya pun menerawang jauh, seperti melamun, namuni sebenarnya bukan. Lebih pas disebut merenung yang dibarengi perasaan nelongso, kata orang Jawa. Tapi mendadak saya merasa perlu untuk mengoreksi pernyataan diatas. “Saya kurang sepakat. Dua poin yang disebutkan diatas bukan monopoli ilmuwan. Harusnya itu menjadi patokan perilaku mereka yang mengaku dirinya intelektual, apakah dia ilmuwan, cendekiawan, profesional maupun politikus”, ujar saya lagi.
Teman ini terdiam dan pelan-pelan mengamini, “hemm, iya juga sih. Tapi kita sudah sepakat untuk mencantumkan dua hal tersebut dalam kode etik ilmuwan”.
“Okelah kalau begitu”, (tanpa berpretensi untuk nyontek judul lagu Warteg Boys) saya menyahutinya.
Tapi menurut saya, hal tidak boleh berbohong dan emosional sepertinya perlu dimuat dalam panduan berperilaku kaum intelektual yang dalam istilah kerennya disebut “Code of Conduct“.

Kalau ditanya tingkat urgensinya dari Code of Conduct pada saat ini, kita semua akan memperoleh jawabannya dengan melakukan browsing berita-berita di detik.com. Begitu self explanatory. Coba simak berita tentang berbagai kasus hangat belakangan ini, sejak dari kasus Bibit-Chandra yang berbuntut kepada pengusutan kasus Bank Century. Isinya penuh dengan nuansa kebohongan dan perilaku emosional dari figur-figur yang terhormat. Bahkan dalam suatu diskusi kemaren ini tangan secara fisik pun ikut bermain yang ditanggapi dengan emosi cengeng. Ya, menurut saya sifat cengeng seperti minta dikasihani dan merasa dizolimi juga termasuk kategori emosional. Yang terakhir, masih fresh from the oven adalah perseteruan di dalam rapat Pansus Century. Masya Allah, ada apa dengan politikus kita yang seharusnya menjadi panutan dan pembela hak-hak rakyat kecil? Dimana itu yang namanya kesantunan dan budi pekerti yang selama ini menjadi nilai jual kita sebagai orang Timur? Apakah tidak ada kata-kata yang lebih pantas dilontarkan di forum terhormat ketimbang bahasa para preman?

Mendadak ingatan saya melayang mundur jauh ke tahun 1950 ketika pemerintah RI berada dibawah payung Republik Indonesia Serikat (RIS). Dari 6 poin program kerja kabinet dibawah pimpinan Perdana Menterinya (dr. Abdul Halim), poin ke 5 adalah:
memajukan pembangunan budi di segala lapisan masyarakat dan menjamin kebebasan suburnya jiwa keagamaan menurut agama masing-masing di dalam pembangunan negara, sesuai dengan Undang-undang Dasar pasal 29.
Pemerintah RI ketika itu sudah menyadari betapa pentingnya menjaga dan memajukan aspek budi pekerti bagi warganya. Itulah agaknya alasan kenapa di tahun 50-70 an aspek Budi Pekerti ikut dicantumkan dalam rapor murid-murid sekolah dasar dengan nilai K (kurang), C (cukup) dan B (baik).
Pada masa itu seorang anak (termasuk orang tuanya) akan merasa malu jika memperoleh nilai K pada kolom Budi Pekerti di rapornya. Ya ya, ketika itu rasa malu masih ada. Kini dunianya sudah jauh beda. Budi pekerti sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Memang di era Soeharto pernah ada mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tapi substansinya sama sekali sudah lain dan sangat kental dengan kepentingan politik di masa Orde Baru.

Kini 59 tahun kemudian, kita malah mundur jauh sekali. Jelaslah kita termasuk kaum yang merugi seperti yang telah diperingatkan oleh firman Allah melalui “Wal ‘ashr. Innal insaana la fii khusr. Illal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr”.
Sudah saatnya kita yang mengaku insan intelektual melakukan introspeksi diri. Apa yang salah dengan bangsa ini? Mengapa setiap hari kita disuguhi sarapan rutin berupa berita-berita yang beruansa kebohongan, menghalalkan segala cara, perilaku emosional dan gaya “bahasa preman”?
Tampaknya pemerintah sekarang memuat kembali aspek budi (kini bisa diartikan moralitas) dalam program kerjanya seperti yang dilakukan oleh Kabinet Halim di tahun 1950.
Sekarang adalah saat yang tepat bagi komunitas intelektual semisal ikatan alumni perguruan tinggi seperti ILUNI-UI, IA-ITB, KAGAMA dll untuk mempelopori gerakan perbaikan moral anak bangsa.
Marilah kita mulai dahulu dari kalangan intelektual, sebelum merambah ke kalangan bawah.
Stop segala retorika dan omong kosong, mari kita mulai dengan aksi. Semoga.

Ciputat, 7 Januari 2010

Leave a Comment

Filed under Behavior / human being

Menelusuri Sejarah Lahirnya Mars Genderang UI


Genderang UI!

Siapa mahasiswa dan alumni UI yang tidak pernah menyanyikan mars wajib ini semasa kuliah di kampus? Hampir di setiap kegiatan resmi mahasiswa dan universitas di kampus, mars Genderang UI selalu dinyanyikan dan diperdengarkan.
Tetapi pernahkah kepada mahasiswa UI diceritakan tentang sejarah pembuatan dan siapa pencipta mars yang bersemangat ini? Kebanyakan diantara kita tidak peduli dan tidak tertarik untuk mengetahui. Bahkan situs resmi UI di Internet tidak memuat informasi apapun mengenai penciptaan lagu Genderang UI ini. Mungkin kebanyakan kita merasa hal ini bukanlah hal penting karena mengetahui sejarah lagu tidaklah persoalan substansial. Tokh itu sudah merupakan masa lalu.

Nah itulah, ini membuat hati saya menjadi miris. Saya teringat ketika masih kuliah di penghujung tahun 1970-an, salah seorang rekan di kampus mengomentari prakarsa senat mahasiswa yang akan mengadakan pameran buku yang dikaitkan dengan memperingati Bung Hatta dengan ucapan sarkastis, ”Bung Hatta memang pahlawan, pada jamannya. Tapi kini jaman sudah berubah.”
Saya jadi kepikiran lebih jauh. Wah, jangan-jangan persepsi bahwa bangsa ini tidak menghargai sejarah memang telah mendarah daging ke semua lini. Apakah tidak harmonisnya hubungan para pemimpin di negeri ini dengan generasi sebelumnya disebabkan oleh merosotnya penghargaan terhadap para seniornya? Entahlah . . .

Kembali ke topik Genderang UI. Karena ingin tahu tentang penciptanya, saya coba googling dengan keyword “genderang UI” dan “pencipta”. Hasilnya hampir nihil, kecuali ada satu hit yang mengena. Satu blog mahasiswa FKUI ada mengupas tentang lirik lagu Genderang UI versi asli yang memuat kata-kata “buku, pesta dan cinta”sekaligus menulis nama Husseyn Umar sebagai penciptanya. Cuma, kalimatnya lebih bernada pertanyaan yang meminta klarifikasi. Namun bagi saya hal ini merupakan titik awal yang bagus untuk menelusuri lebih jauh. Beberapa teman saya kontak, termasuk kolega senior di ILUNI-FK yaitu dr. Doddy Partomihardjo. Beliau mengatakan kira-kira seperti ini:

”ketika saya mengikuti masa perploncoan di FKUI tahun 1961, saya masih menyanyikan mars Genderang UI yang ada lirik ‘buku, pesta dan cinta’. Ketika itu Ketua Senat Mahasiswa FKUI adalah sdr Kartono Mohammad.
Seingat saya, lirik itu diubah sekitar th 1964 karena ketika kami menghadiri Hari Sarjana UI di Istora pada tahun 1963 dimana Fak Pertanian UI Bogor terakhir bersama UI, kami masih bernyanyi

Bogor, Bandung Jakarta
pusat ilmu budaya bangsa

Sesudah Bogor dan Bandung melepaskan diri dari UI, seingat saya pada waktu itulah lirik ‘buku, pesta dan cinta’ pun dihapuskan. Suasana waktu itu sedang berwajah revolusioner sehingga kata-kata ‘buku, pesta dan cinta’ itu ditabukan, konon dilakukan karena permintaan Bung karno.”

Sayangnya dr. Doddy tidak bisa mengkormasikan apakah benar bapak Husseyn Umar yang jebolah FHUI inilah sang pencipta lagu Genderang UI, sehingga saya mencoba melacak via jalur almamater beliau, yaitu alumni Fakultas Hukum. Singkat cerita, saya berhasil memperoleh kontak dan bertemu dengan bapak Husseyn Umar berkat bantuan mas Otta (Mas Achmad Sentosa, eks ketua ILUNI-FH).

Ditemui di kantor beliau yang berada di ketinggian (lantai 24 gedung Graha Niaga, jl. Jend. Sudirman Jakarta), saya memperoleh penjelasan dari pak Husseyn sekitar latar belakang lahirnya mars Genderang UI. Usia kami yang terpaut 24 tahun tidak menjadi penghalang untuk terjadinya diskusi yang akrab karena sambutan beliau begitu ramah dan hangat.

Pak Husseyn Umar masuk UI tahun 1952 dan menyelesaikan kuliahnya tahun 1957. Selama kuliah beliau aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan bersama tokoh-tokoh seperti Emil Salim, Nugroho Notosusanto, Alwi Dahlan, Wisaksono Nuradi.

Beliau menuturkan bahwa suasana dunia kemahasiswaan saat itu sangat didominasi oleh peranan organisasi extra universiter. Pada masa itu kegiatan mahasiswa umumnya didominir oleh kegiatan – kegiatan ekstra- universiter oleh organ-organ mahasiswa seperti GMD, IMADA, GMNI, GMKI, Ta hsueh Hsioh dll.
Untuk mengimbangi kehidupan kampus ekstra-universiter di Indonesia, Prof. Bahder Djohan selaku Presiden UI (kini Rektor UI) mendukung diterapkannya konsep kehidupan intra-universitas (melalui Dewan Mahasiswa). Ini tidak hanya ditujukan kepada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan belaka, tetapi juga kepada universitas sebagai institusi. Pada saat itu mahasiswa sudah mulai mengkritisi soal pengelolaan dana kesejahteraan mahasiswa dan menghendaki adanya organisasi universitas yang tertib dan bersih. Bahkan selain menuntut otonomi universitas agar birokrasi Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K) tidak merugikan perkembangan universitas sebagai institusi ilmu, mereka kemudian juga menentang tindak kekerasan terhadap pergolakan di daerah.

Dalam konteks ini, di tahun 1957 Prof. Bahder Djohan memprakarsai upaya pembuatan mars mahasiswa UI untuk membangkitkan semangat mahasiswa untuk membangun kegiatan intra-universiter sekaligus membantu membangun fungsi perguruan tinggi. Husseyn Umar yang ditugaskan untuk membuat lirik mars Genderang Mahasiswa UI (kini namanya disingkat menjadi Genderang UI) berkonsultasi dengan ibu dr. Siwabessy. Tetapi karena lama sekali responsenya sementara Dies Natalis 1957 sudah semakin mendekat, maka dicarilah seseorang untuk membuatkan partitur dari lirik Genderang Mahasiswa UI. Dalam situasi kepepet itu akhirnya pilihan jatuh kepada Godfried Sitompul, seorang mahasiswa Teologi di Pegangsaan Timur (Cikini).
Dengan demikian lahirlah mars wajib mahasiswa UI yang berisikan kata-kata “….Buku, pesta dan cinta adalah hidup mahasiswa…”, yang merupakan semboyan atau kata-kata bersayap yang sangat populer dikalangan mahasiswa pada masa itu.

Universitas Indonesia
Universitas Kami
Bogor Bandung Jakarta
Pusat Ilmu Budaya Bangsa

Kami Mahasiswa
Perlambang Cita
Ngejar Ilmu Pekerti Luhur
Tuk Nusa dan Bangsa

S’mangat Lincah Gembira
Buku Pesta dan Cinta
Itulah Hidup Kami
Mahasiswa….

Ketika saya menanyakan kepada pak Husseyn, mengapa memilih kata-kata Buku Pesta dan Cinta, pak Husseyn menjawab singkat.

”Buku, pesta dan cinta sebetulnya tidak asing bagi aktivis mahasiswa sejak dulu. Hari-hari mereka selalu diisi dengan diskusi. Buku menjadi teman pribadi yang tidak pernah lepas dari genggaman tangan dan fikiran. Dengan buku, kita bisa menguasai ilmu dan juga menguasai dunia. Mahasiswa sebagai makhluk hidup, disamping kegiatan kuliah, juga tidak lepas dari pesta, namun pestanya bukanlah pesta hura-hura ataupun pesta hedonis. Pesta-pestanya selalu dihidupi dengan diskusi dua arah untuk menghasilkan solusi dan makna yang terarah.

Manusia tentunya juga tidak bisa lepas dari kebutuhan cinta. Dalam hal kehidupan seorang aktivis tempo doeloe dan mungkin juga dewasa ini, “buku, pesta dan cinta” sudah menjadi suplemen dalam hidupnya. Tanpa buku mereka akan merasa kehausan, tanpa pesta mereka tidak akan menemukan solusi, dan tanpa cinta hidupnya serasa tidak berarti.

Itulah sekilas tentang kelahiran mars Genderang UI sebagaimana penuturan bapak Husseyn Umar, alumnus FHUI yang pernah menangani Bidang Kesenian Dewan Mahasiswa UI di era Emil Salim, mantan Direktur Utama PT PELNI yang kini menjadi Partner di kantor Hukum ABNR Jakarta dan anggota pengurus Yayasan Dokumentasi Sastra HB. Jassin.
Semoga uraian singkat ini ada manfaatnya bagi generasi dan angkatan muda alumni UI.

(Ciputat, 14 September 2009)

Leave a Comment

Filed under nostalgia

Know Your Customer (KYC) dan Tukang Bubur Ayam

Bisnis Indonesia edisi 9 Januari 2009 menurunkan artikel menarik dari Marketing Director Oracle Indonesia dengan judul Know Your Customer (KYC). Saya menjadi tertarik, karena tulisan ini mengingatkan kita bahwa dunia mulai memasuki masa resesi ekonomi global terburuk sejak Perang Dunia ke-2, sehingga kita diminta untuk lebih fokus dalam meningkatkan pendapatan (revenue)  dan menurunkan biaya (cost/expense).Artikel tersebut memaparkan bahwa kedua prinsip diatas tampak sangat sederhana dan mudah, namun sulit dalam pelaksanaannya. Jika prioritasnya adalah meningkatkan pendapatan (revenue), pelaku bisnis harus paham benar siapa dan model macam apa pelanggannya? Bahasa kerennya disini adalah know your customer, atau pelaku bisnis diminta untuk lebih mengenal CRM (customer relationship management) secara keseluruhan, yang pada dasarnya mencakup pemahaman dasar seperti:
Siapa pelanggan kita sebenarnya?
Segmen mana yang menjadi pelanggan setia kita?
Karakter seperti apa yang menjadi pelanggan kita, baik yang loyal maupun biasa?
Tersebar di daerah mana saja, pelanggan kita?
Produk mana yang disukai oleh pelanggan kita?
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terkait dengan pelanggan.Sebagai konsekuensinya, setiap pelaku bisnis harus mengenal baik pelanggannya jika ingin mendongkrak pendapatan perusahaan melalui mereka, karena para pelanggan dikatakan sebagai darahnya perusahaan.Perbankan barangkali merupakan salah satu sektor yang paling aktif memperhatikan aspek KYC ini karena nasabah bank jelas merupakan faktor paling utama untuk meningkatkan revenue. Dari Google search kita bisa menemukan banyak dokumen yang membahas soal KYC. Namun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak pelaku bisnis kelas menengah atas yang dalam kegiatan sehari-hari sepertinya tidak paham dengan prinsip KYC. Sehingga kita mungkin bertanya-tanya, apakah sebegitu sulitnya untuk memahami kemauan pelanggan sehingga banyak pelaku bisnis yang gagal mencapai target penjualannya?

Sang penjual bubur ayam Sukabumi di pojok kantin kantor mulai hafal kalau melihat kedatangan saya di pagi untuk sarapan. Tidak terlalu sering memang, paling 2 kali seminggu saya menyempatkan diri sarapan bubur ayam pagi. Itu juga kalau agak kepagian sampainya di kantor. Biasanya saya cuma bilang, “bubur sama sate ampela ya mas,” sambil menuju tempat duduk di kantin.
Pada kunjungan ke lima kalau ngga salah, ketika mengantarkan bubur pesanan saya, si mas tersebut berkata “Pak, kacangnya saya kurangi ya, karena saya perhatikan Bapak kurang suka kacang.” Saya melengak, dari mana datangnya kesimpulan ini? Maka saya balik tanya, “kok tahu?” Dia jawab lagi, “Abis, dari sarapan yang kemaren-kemaren saya lihat kacangnya masih tersisa.” Hemm, saya cuma bisa manggut-manggut. Rupanya selama ini waktu mengambil kembali mangkuk bekas sarapan saya, dia memperhatikan apa yang tersisa. Boleh juga memori si mas penjual bubur ini, padahal kan pelanggannya lumayan banyak. Apalagi saya kan nggak terlalu sering mampir. Sebenarnya ini hanya hal kecil, tetapi membuat saya impressed. Si penjual bubur mengenali kesukaan saya. Bahkan ketika saya lupa menyebutkan ati ampela, ia tidak lupa menyodorkan sepiring sate ati ample dan usus di meja saya. Dalam dunia marketing,  si penjual bubur ayam ini termasuk mereka yang menerapkan KYC, mengerti pelanggannya sekaligus menjalankan apa yang disebut   attention to detail. Padahal saya berani jamin si penjual bubur ayam ini belum pernah ikut training KYC. Ia hanya berbuat sesuai dengan intuisi dan common sense belaka.
Ya, pagi itu saya belajar memahami KYC justru dari seorang tukang bubur ayam. Pelajaran yang begitu straight forward, learning by example, seeing is believing … atau apa pun istilah kerennya yang sering kita dengar di kuliah-kuliah marketing.

Ciputat, 30 Januari 2009.

Leave a Comment

Filed under Behavior / human being, Inspiration

Kota Barus: Kisah Pilu Bandar Niaga Internasional Masa Lalu

Bulan Juni 2009 saya tergerak untuk membeli majalah eramuslim digest (edisi koleksi 9) yang bertemakan THE UNTOLD STORY di sebuah toko buku kecil. Salah satu artikelnya yang berjudul “Barus dan Pembalseman Mumi Firaun” membuat saya terheran-heran, karena ternyata di negeri tercinta ini ada sebuah kota kecil yang memiliki sejarah masa lalu yang hebat.

Disitu dikisahkan secara ringkas namun lugas, bahwa kota kecil Barus yang berada di pesisir Barat Propinsi Sumatera Utara itu, diantara kota Singkil dan Sibolga dulunya sangat terkenal. Sesuai dengan namanya, kota Barus merupakan penghasil kapur wewangian yang populer dengan nama kapur barus yang berkualitas tinggi. Konon kota Barus merupakan satu-satunya kota di Nusantara yang pernah dicatat berbagai literatur sejak awal Masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia dan Cina.

Lebih jauh artikel itu menyebutkan bahwa Claudius Ptolomeus, seorang ahli geografi, astronom yang juga Gubernur Yunani di abad ke-2 Masehi membuat peta yang mencantumkan nama Barousai, sebagai bandar niaga di pesisir Barat Sumatera yang menghasilkan wewangian dari sejenis kapur. Bahkan diceritakan pula bahwa kapur wangi yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dimanfaatkan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun sebelum Masehi.

Karena begitu pentingnya Barus, maka sejak lama sekali dalam dunia dagang dikenal nama-nama baros, balus, pansur, fansur, pansuri (dari desa Pansur sedikit di utara Barus), kalasaputra (dari kata Kalasan, daerah penghasil kapur barus antara kota Barus dan sungai Chenendang), karpura-dwipa, barousai (oleh Ptolomeus), warusaka dan lain-lain.
Prof. Kern pernah menulis bahwa kota “P’o-lu-chi” yang dimaksud I Tsing di abad ke-7, tidak lain adalah Barus. Begitu pula kerajaan “Ho-lo-tan” dalam tulisan-tulisan Cina, mungkin yang dimaksud adalah Kalasan, daerah penghasil kapur barus yang disebut diatas.
Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan Barus pada tahun 1292 M, sementara sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah mengunjungi Barus pada tahun 1345 M.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah. Ini memperkuat data bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era tersebut.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 625 M – hanya berselang 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab – telah ada kampung kecil yang dihuni pemeluk Islam di sebuah pesisir pantai Barat Sumatera. Kampung ini berada dalam kekuasaan wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa di daerah ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan pernikahan. Namun belum ada kesepakatan diantara sejarawan muslim, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam di Nusantara. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam seminar “Masuknya Islam di Nusantara” yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu Dada Meuraksa, sejarawan lokal, berkeyakinan bahwa Islam masuk ke Barus pada awal tahun Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin diatas.

Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim aatu hijaratun Nabi. Tetapi pandangan Dada Meuraksa itu disangkal oleh ulama terkenal Sumut, HM Arsyad Thalib Lubis yang menganggap bahwa bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga belasan tahun lamanya. Baru pada tahun 1978 sejumlah arkeolog dipimpin oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter lebih, diatas permukaan laut, menurut ustad Djamaluddin Batubara usianya lebih tua dari makam Syekh Rukunuddin, sekitar era 10 tahun pertama dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Menurut beliau, Syekh Mahmud adalah penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya.

Mengutip KOMPAS (Akhir Perjalanan Sejarah Barus, 1 April 2005), Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) melakukan penggalian arkeologi di Lobu Tua (4 km kearah Barat dari Barus). Temuan mereka membuktikan bahwa pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di desa Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.
Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.
Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.
Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.
“Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Barus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.
Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.
Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.
Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.
Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.
Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.

Panggilan dari Barus

Ketika saya memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Barus atas undangan sesepuh Barus, Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA, tentu saja tawaran ini saya sambut dengan sangat gembira.
Ini betul-betul merupakan kesempatan emas untuk melihat sendiri bagaimana kondisi kota kecil
yang sempat menjadi emporium di masa lalu.

Begitulah, pada tanggal 30 Oktober 2011 saya yang belum sempat beristirahat setelah kembali dari Papua dan diikuti dengan meninggalnya adik kandung saya, harus berangkat lagi ke Barus melalui Medan dengan didampingi oleh M. Dachyar, anak Prof. Dachnel yang saya kenal baik
sejak kecil.

Kami memasuki Barus melalui jalur Sibolga, setelah terbang dengan Wings Air dari Medan ke Sibolga selama 35 menit. Bandar udaranya begitu sederhana, dinamakan bandara Dr. Ferdinand Lumbantobing yang terletak di desa Pinang Sori, sekitar 30 km dari kota Sibolga.
Di bandara, kami sudah ditunggu oleh pak Rivai, staf STKIP Barus yang diutus oleh Prof. Dachnel.
Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan dari airport menuju Sibolga dan Barus seakan mengkonfirmasi saya bahwa lokasi ini memang telah luput dari perhatian pemerintah. Kondisi jalan banyak yang rusak, amat kontras dengan apa yang saya lihat di kota-kota propinsi lain seperti Aceh dan Sumbar.

Karena ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Tapanuli Tengah, Dachyar bertindak sebagai tour guide dengan memperkenalkan beberapa tempat yang kami lewati. Kami singgah sebentar di pantai Pandan yang menjadi areal wisata warga Sibolga, lalu santap siang di Rumah Makan Pak Nas yang terkenal itu. Kami berdua memang sudah kelaparan karena di bandara Soekarno-Hatta tidak sempat sarapan pagi. Kombinasi antara lapar dan lezatnya lauk, sungguh membuat makan siang kami begitu nikmat.

Pantai Binasi, Barus.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Barus dengan mengambil jalur di sepanjang pantai, sehingga kami bisa menikmati keindahan dam keasrian pantai Binasi yang berpasir putih di kecamatan Sorkam. Alangkah kontrasnya jika dibandingkan dengan kondisi pantai Ancol di Jakarta.
Akhirnya kami memasuki kota Barus ditengah guyuran hujan menjelang pukul empat sore dan langsung menuju kediaman keluarga Prof. Dachnel. Saya yang kelelahan sempat kawatir, apakah kondisi fisik saya cukup fit untuk melakukan pendakian ke makam Papan Tinggi esok hari. Seolah dapat membaca jalan pikiran saya, pak Dachnel diam-diam telah meminta seorang tukang urut untuk datang pada malam harinya khusus untuk memijat saya dan Dachyar.
Malam itu kami tidur lelap sekali.

Mendaki Makam Papan Tinggi
Pagi hari saya terbangun dengan kondisi badan masih pegal, namun sudah lebih fit dibandingkan kemaren. Udara pagi di Barus ternyata cukup sejuk walaupun lokasinya tidak jauh dari tepi pantai.
Setelah sarapan pagi saya dan Dachyar berangkat menuju ke Makam Papan Tinggi di desa Pananggahan dengan membonceng dua sepeda motor yang dikendarai Eros dan Bambang, warga setempat.
Uniknya, mayoritas penduduk desa di desa Pananggahan justru masyarakat non-Muslim. Menjelang sampai ke lokasi kami melihat banyak babi peliharaan warga berkeliaran di pekarangan rumah-rumah.

Akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Saya agak terperangah melihat anak tangga yang seolah tiada habisnya menuju keatas bukit. Ternyata istilah makam Papan Tinggi bukan sekedar bualan belaka. Menurut penuturan Prof. Dachnel, anak tangga yang mengular ini dibuat ketika Raja Inal Siregar (alm.) menjadi Gubernur Sumut. Sebelum itu, mereka yang ingin menuju ke makam harus merangkak keatas, seperti yang dilakukan oleh Prof. Dachnel semasa kecilnya. Sungguh sulit untuk membayangkan hal ini.
Saya melihat ke sekeliling. Suasananya begitu teduh dan hening yang diselingi bunyi jangkrik di lingkungan pepohonan karet dan tanaman penduduk.

Awalnya saya berniat untuk mencoba menghitung jumlah anak tangga menuju Makam Papan Tinggi yang oleh salah satu literatur disebutkan sebanyak 744 anak tangga. Tetapi saya menyerah, tidak sanggup. Bukan apa-apa, saya pada akhirnya sudah repot sendiri mengurus pernapasan selama mendaki. Pada tempat-tempat tertentu ada tempat perhentian yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di beberapa tempat perhentian sudah dibuatkan tempat duduk menggunakan semen yang kerjakan oleh Eros dan Bambang atas instruksi Prof. Dachnel. Menurut Eros, bangku-bangku itu sengaja buru-buru dikerjakan satu minggu sebelum kedatangan kami supaya bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.

Ada satu peristiwa yang aneh terjadi sewaktu Eros, Bambang dan dua tukang lainnya tengah asyik mengerjakan bangku untuk istirahat itu. Tahu-tahu mereka berempat mendengar suara halus menyapa “Assalamu’alaikum” sementara tidak ada siapapun di sekitar tempat itu. Mereka berempat akhirnya berpikir bahwa mungkin itu merupakan salam dari penghuni makam, dan meneruskan pekerjaannya.
Saya setidaknya memerlukan 5 kali beristirahat dengan duduk dan mengatur napas sebelum akhirnya berhasil melihat pagar makam dengan kombinasi warna hijau dan biru. Kepenatan yang melanda seakan sirna begitu sampai diatas. Pemandangan kearah lautan lepas maupun ke bukit-bukit sekitar makam begitu mempesona. Ternyata kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi makam.

Makam Syekh Mahmud sepanjang 7 meter lebih.

Alhamdulillah, saya bisa ziarah ke makam aulia yang didalam sejumlah literatur disebutkan sebagai makam Syekh Mahmud, penyebar agama Islam pertama di Barus. Makam tersebut diperkirakan panjangnya sekitar tujuh meter lebih dengan batu nisan besar setinggi 1,5 meter.
Sulit untuk membayangkan bagaimana batu nisan bertulisan Persia dan Arab yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram itu bisa diangkut sampai di ketinggian ini.

Kompleks Makam Mahligai.

Singkat cerita, kami pun tidak lupa mengunjungi makam Mahligai yang berlokasi di desa Dakka, hanya beberapa kilometer dari makam Papan Tinggi. Makam seluas 1,5 hektar itu berisikan sekitar 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil yang ditandai dengan ukiran bergaya Arab. Disinilah tempat dimakamkannya Syekh Rukunuddin (wafat 48 Hijiriah).

Riwayat Barus, Kini dan Harapan Masa Depan
Melihat kondisi kota Barus saat ini sungguh membuat kita prihatin.
Bagaimana tidak? Kota yang di masa lalu terkenal sebagai penghasil Kapur Barus dan rempah-rempah yang diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia kini seperti diterlantarkan. Kota kecamatan ini tidak memiliki tempat penginapan yang memadai, tidak ada apotik dan hanya ada satu mesin ATM (di kantor cabang BRI). Jangan tanya soal convenience store seperti Alfa Mart, Indomaret atau fast food. Kami sempat kesulitan ketika ingin membeli Coca Cola kaleng di Barus.

Tidak heran jika Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA sebagai sesepuh yang dituakan di Barus saat ini merasa sangat prihatin akan kemunduran kota Barus. Itulah yang membuat beliau terpanggil untuk kembali untuk membangun kampung halamannya , sementara mayoritas warga Barus pergi merantau ke kota-kota besar. Beliau memulainya dengan satu aktivitas yang paling mendasar, yaitu pendidikan dengan membuka Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus yang kini memiliki 600 mahasiswa. SDM memang merupakan isu yang paling krusial bukan hanya di Barus, tapi juga di daerah-daerah lainnya.

Seperti diutarakan oleh KOMPAS, Barus yang berjarak sekitar 414 km dari kota Medan tampaknya memang telah terlupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan. Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan. Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan. Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian besar warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.

Barus terkenal sebagai penghasil ikan kering (teri).

Coklat, salah satu produksi Barus.

Apakah Barus bisa bangkit kembali sebagai salah satu kota dan bandar niaga kelas internasional sebagaimana masa lalunya, itu sangat tergantung kepada keseriusan pemerintah pusat, pemerintah setempat serta warga Barus dalam mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya alam dan wisatanya yang melimpah itu. Semoga saja!

Aswil Nazir (9 November 2011)

DAFTAR PUSTAKA

  • Eramuslim digest, edisi koleksi no. 9, 2009
  • Akhir Sejarah Perjalanan Barus, KOMPAS, 1 April 2005
  • Barus, pintu masuk Islam pertama di Indonesia, WASPADA ONLINE, 7 Agustus 2011 (http://www.waspada.co.id)
  • Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Bab I bagian 4, Kota Barus dan Kebudayaan Asal India Selatan, 1981.
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008

Leave a Comment

Filed under History, Travel

SIAPA YANG TIDAK BOLEH BOHONG DI REPUBLIK PINOKIO INI?

Setahun yang lalu, persisnya 7 Januari 2010 saya menulis note singkat di FB tentang Code of Conduct bagi Intelektual yang intinya agar mereka

  1. tidak boleh berbohong dan
  2. tidak boleh emosional dalam menyampaikan pendapat.

Pada saat itu masyarakat Indonesia lagi asyik menikmati sinetron Bibit-Chandra dan bank Century yang ditengarai penuh dengan kebohongan. Kini kita semua sudah menyaksikan betapa sinetron tersebut tidak jelas endingnya, yang kalau ibarat menonton film laga,  kita tidak tahu siapa yang menang atau kalah.

Kini, setelah setahun berjalan, masyarakat kembali disuguhi sinetron baru dengan tema sama, yaitu KEBOHONGAN. Wajar kalau seantero republik jadi heboh, karena yang dituding sebagai pemeran utama adalah RI-1.  Pihak istana pun bereaksi dan angkat bicara. Tapi stigma negatif itu sudah terlanjur menyebar di kalangan masyarakat karena sejumlah tokoh lintas agama turut meramaikan panggung. Seperti biasa, pro kontra pun terjadi. Sayangnya diantara tokoh agama yang menuding RI-1 berbohong itu ada figur yang tidak 100% dipercaya netralitas dan motivasinya. Maka jadilah situasi saling tidak percaya.
Andaikan keseluruhan tokoh agama yang mengumumkan  sejumlah kebohongan RI-1 merupakan figur bersih ibarat petapa sakti dan suci yang turun gunung untuk memberantas kejahatan, reaksi masyarakat pasti akan beda. Tapi kini situasinya jadi salah kaprah karena tokoh agama itu kini dituding sudah masuk ke ranah politik dan punya motif politik.

Situasi ini membuat saya jadi teringat akan ucapan seorang dosen yang bertanya kepada mahasiswanya, apa yang membedakan antara Politisi, Peneliti, dan Dosen/Ulama. Pertanyaan itu dijawabnya sendiri seperti dibawah ini:

  • Politisi boleh melakukan kesalahan dan boleh berbohong
  • Peneliti boleh berbuat salah, tetapi tidak boleh bohong
  • Dosen/Ulama tidak boleh salah dan tidak boleh bohong.

Jadi kalau dilihat statement diatas, kata kuncinya adalah BOLEH dan TIDAK BOLEH. Tentunya harus dipahami bahwa pengertian BOLEH tidak sama dengan HARUS. Boleh berbohong, tidak serta merta dianggap harus berbohong. Pengertian tidak boleh disini berarti mesti dihindari.
Konon ada aturan main tambahan bagi mereka yang berbohong, yaitu “harus konsisten dengan kebohongannya“. Artinya, sekali bohong dalam suatu hal, harus berbohong terus hingga akhir. Ibaratnya seseorang yang mengaku naik kereta api ke Bandung, kalau bercerita jangan menyebut bahwa dia singgah makan di restoran Puncak. Jadi untuk  urusan kecil dan sepele pun harus dibuat klop dengan cerita bohongnya. Dan inilah yang sulit karena kebohongan manusia biasanya terbongkar dari hal-hal yang remeh-temeh.

Kalau Peneliti kondisinya berbeda. Ia bisa saja berbuat salah dalam melakukan eksperimen atau hipotesa. Tapi peneliti harus jujur dalam menyampaikan hasil penelitiannya, jangan berbohong atau menyembunyikan hasilnya walaupun salah. Kalau peneliti tidak jujur, akibatnya bisa fatal seperti kasus Blue Energy tempo hari yang ujung-ujungnya mempermalukan RI-1 lagi.

Tapi yang paling berat adalah profesi dosen atau ulama. Seorang dosen tidak diperbolehkan memberikan materi yang salah. Ulama juga jangan mengajarkan hal yang salah kepada umatnya. Kalau berbuat salah saja sudah dilarang bagi dosen atau ulama, apalagi berbohong karena akan berdampak fatal terhadap pemahaman yang salah dari anak didik atau umatnya.

Sekarang bagaimana kalau ada seorang ulama (tokoh agama) yang masuk dan berkecimpung di ranah politik seperti DPR? Itulah sumber kekacauan karena ulama tersebut tidak mungkin lagi mempertahankan prinsip “tidak boleh salah dan tidak boleh bohong“. Untuk hal ini juga banyak contoh nyata yang kita lihat di pentas politik. Cukup banyak tokoh agama kondang dan dihormati pengikutnya yang sikap serta ucapannya berbalik 180 derajat setelah masuk ke ranah politik. Sungguh memprihatinkan.

Kembali ke politisi, Presiden tentunya masuk kedalam kategori ini. Jadi kalau belakangan ini banyak pihak yang menuding Presiden berbohong, tentu kita tidak perlu terkaget-kaget. Ada kalanya seorang Presiden tidak bisa berkata jujur tentang suatu kejadian karena beberapa pertimbangan, misalnya demi keamanan atau rahasia negara. Tapi Presiden juga tidak bisa seenaknya bicara. Mungkin masih ada yang ingat dengan kontroversi pidato SBY pasca bom Marriot-Ritz Carlton di Kuningan. Beberapa jam setelah ledakan bom, SBY berpidato tanpa teks dan  ditayangkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi. Satu demi satu pernyataan SBY mengalir, disamping berisi ungkapan duka, juga menyentil para elit politik.

Ini kutipan berita tersebut yang diambil dari INILAH.COM:

“Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu,” urai SBY.
Walhasil, pidato SBY pun menuai sorotan dari berbagai kalangan, mulai dari politisi, aktivis, hingga akademisi. Pernyataan SBY sebagai kepala negara disesalkan karena justru membuat panik bahkan bernada menuduh lawan politik.

Pertama, ia menyebutkan bahwa ada orang-orang yang pada masa lalu melakukan kejahatan dan belum dihukum. Kedua, ia menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan drakula-drakula itu menebar maut.
Siapakah yang dimaksud presiden? Tentu saja ini adalah pernyataan keras, dan publik merasa pokok itu ditujukan pada salah satu pihak calon presiden. Presiden memang terus terang mengindikasikan juga hubungan antara teror bom dengan situasi ketidakpuasan terhadap pelaksanaan pilpres. Ia bahkan menghubungkannya dengan usaha untuk menggagalkan pelantikannya kelak sebagai presiden.
Itulah sebabnya pihak Megawati-Prabowo secara tegas meminta agar Presiden SBY tidak mempolitisir soal pemboman itu. Demikian juga Jusuf Kalla menganggap bahwa pengaitan bom dengan masalah politik pilpres adalah terlalu jauh.

Seperti kita ketahui bersama, urusan ini berakhir tanpa kejelasan, siapa yang sesungguhnya memutar balikkan berita. Dan karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf sekaligus pelupa, maka kita pun sudah melupakan hal-hal yang lalu. Sama halnya ketika beberapa kalangan ingin memberikan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto, kita pun lupa betapa banyak korban sia-sia di era orde baru, betapa peristiwa G-30S PKI masih menyisakan misteri, siapa sesungguhnya sang sutradara dan pemain utama.

Lalu soal berbohong, bukankah dari dulu pemerintah kita sudah biasa melakukannya? Misalnya saja, korban pembantaian Westerling  yang disebut berjumlah 40.000 jiwa kini mulai diragukan kebenarannya. Begitu juga Taman Makam 1000 di Serpong diperkirakan hanya memuat sekitar 100 makam pejuang saja. Tampaknya anak bangsa ini sejak dulu sudah  senang melakukan mark-up angka-angka, bukan hanya terjadi dalam tender pemerintah saja.
Karena itu mari kita kita sudahi saja obrolan ngalor-ngidul ini sebelum saya ikut terseret menulis hal-hal bohong disini.
Pamit mundur.

Ciputat, 19 Januari 2011.

Leave a Comment

Filed under Behavior / human being, Inspiration

Nostalgia tentang Roti Tempo Doeloe

Rasa rindu itu menyeruak begitu saja di pagi ini. Mendadak saya ingin napak tilas ke masa lalu, ke masa kecil sewaktu diajak berakhir pekan ke Bogor, Cisarua, Puncak atau Cipanas di awal tahun 70 an.
Seolah merupakan suatu keharusan, jika melewati kota Bogor saya dan saudara-saudara selalu diajak mampir di toko roti Tan Ek Tjoan atau toko roti Lautan. Ketika itu kedua toko roti ini boleh dikatakan merupakan top brand roti yang populer bagi warga Jakarta dan Bogor. Istilah bakery yang begitu mewabah saat ini, waktu itu belum populer.
Momen sewaktu memilih roti-roti yang akan dicicipi merupakan hal yang saya sukai, walau agak membingungkan bagi saya, anak daerah yang tengah berlibur ke Jakarta.
Tapi dari semua jenis roti, tetap saja roti coklat adalah favorit saya setiap kali mampir ke Tan Ek Tjoan atau Lautan. Padahal Lautan lebih terkenal dengan roti tapal kuda nya, yang agak mirip dengan roti croissant sekarang.

Dari Roti Tradisional hingga Era Bakery

Menurut beberapa tulisan di web blog, perusahaan roti Tan Ek Tjoan didirikan oleh seorang pedagang berdarah China bernama Tan Ek Tjoan di Bogor pada tahun 1921 dan kemudian di tahun 1953 mulai membuka cabangnya di Jakarta. Kini, di tokonya yang berlokasi di daerah Cikini memang nuansa jadul nya terasa sekali. Konon itulah keunikan toko roti Tan Ek Tjoan di Jakarta yang tidak pernah berpindah tempat atau merenovasi bangunan tuanya, sehingga para pelanggannya suka datang ke sana.
Toko yang di Cikini ini dikelola oleh generasi kedua Tan Ek Tjoan sementara yang di Bogor dimiliki generasi ketiga (cucu) Tan Ek Tjoan.

Disamping Tan Ek Tjoan dan Lautan yang menjadi favorit saya di kurun waktu tahun 60-70 an, di Jakarta juga ada roti Lauw.
Roti Lauw ini tampaknya masih mempunyai konsumen yang loyal, meski terdesak oleh serbuan outlet bakery di hampir semua pusat perbelanjaan. Roti Lauw sendiri masih dijajakan dengan cara yang tradisional, dengan sepeda gerobak. Pola pemasaran menggunakan gerobak ini sudah dilakukan roti Lauw sejak tahun 60-an.

Sementara itu kejayaan Lautan (di Bogor) yang pernah dimiliki oleh Tan Ek Tjoan kini sudah tidak ada lagi. Dulu toko roti di jalan Jenderal Sudirman itu setiap hari Minggu penuh sesak dengan pembelinya dan merupakan tempat transit yang strategis bagi mereka yang akan berwisata menuju ke Puncak.

Satu lagi roti jadul (jaman dahulu) yang berkesan bagi saya adalah roti Sanitas yang seingat saya di tahun 70-an lokasinya di kawasan Blok M. Kalau Lautan populer dengan roti tapal kuda nya, produk Sanitas yang disenangi di masa itu antara lain adalah roti sobek nya. Awalnya saya kira Sanitas telah menghilang seirama dengan maraknya merk roti modern di ibukota.
Namun ternyata dugaan ini salah, karena perusahaan roti Sanitas yang didirikan oleh suami-isteri Darmosusilo di Semarang pada tahun 1920 ternyata masih eksis.  Di Jakarta, toko Sanitas bisa dijumpai di kawawan Mayestik, Kebayoran dengan nama Sanitas Bakery, sesuai dengan perkembangan jaman.

Lalu di awal tahun 80 an kita juga mengenal beberapa nama toko roti / bakery yang menonjol seperti Maxim, Regina’s, Holland Bakery dan Sakura Anpan di jalan Sabang Jakarta Pusat. Belakangan muncul Vineth Bakery yang sempat berjaya beberapa waktu lamanya sebelum menjamurnya bakery-bakery lainnya.

Kini persaingan bisnis roti sudah sedemikian ketatnya. Era roti tradisional sudah berlalu.
Sementara Tan Ek Tjoan dan Lauw masih meneruskan gaya penjualannya melalui gerobak, mereka bersama Sanitas, Maxim, Regina’s, dan Sus Merdeka harus berjuang keras agar dapat survive dalam bersaing dengan beragam merk roti modern kelas atas seperti Harvest, Eaton, Gordon Blue, Jesslyn, Holland bakery, Le Courmet, Clairmont, BreadTalk maupun Kartika Sari dari Bandung yang menawarkan aneka ragam roti dengan cita rasa lezat yang dipadukan dengan layanan yang prima.

Pemandangan di salah satu outlet The HARVEST Pattisier & Chocolatier yang menawarkan konsep "one stop eating place".

Sekali-sekali santai menikmati suasana Minggu sore bersama Chocolate Caramel dan Blueberry Cheese Cake dan Strawberry Ice Lemon Tea di modern bakery shop.


Selamat Datang di era kuliner yang begitu memanjakan lidah.

(Ciputat, 3 Januari 2010)

Leave a Comment

Filed under Kuliner, nostalgia

Ya Allah, masihkah pekerjaan ini cocok untukku?

Sebagian dari kita mungkin sering mendengar ucapan spontan yang keluar dari mulut rekan sekerja seperti “Thanks God, it’s Friday” atau “Oh my God, it’s Monday again.” Atau yang cukup populer adalah istilah “Monday sickness.”

Sekilas tampaknya tidak ada yang salah dengan istilah diatas yang malah seringkali dibuat guyon sehingga kita justru suka mengomentarinya sembari bercanda. Fenomena seseorang yang merasa lega ketika lepas dari hari-hari kerja yang melelahkan atau mereka yang merasa stress ketika menyadari masa santainya di akhir pekan akan segera berlalu, itu hal yang biasa terjadi. Tetapi apakah kita menyadari bahwa ternyata cukup banyak orang-orang yang justru selama berakhir pekan begitu tidak sabarnya menunggu datangnya hari Senin, supaya dia bisa kembali bekerja. Mereka itu malahan ibarat anak yang kehilangan mainan kesayangannya begitu hari Jum’at berakhir. Mereka itulah yang sering diolok-olok dengan sebutan orang yang “work alcoholic” atau “work maniac”.

Melihat kedua ekstrem diatas, pertanyaan yang barangkali timbul adalah, Anda berada di sisi mana? Apakah Anda penggemar TGIF atau termasuk golongan yang doyan masuk kantor di hari Sabtu? Kalau masih ada yang bertanya-tanya soal hakekat dari pekerjaan itu, apakah ada bedanya dengan karier atau hobi, ada buku rujukan yang praktis dan enak dibaca. Buku itu berjudul “Your Job is NOT Your Career” karya Rene Suhardono yang berprofesi sebagai Career Coach. Dengan gaya bahasa dan alur kalimat yang enak untuk dibaca, mata kita akan terbuka bahwa ternyata Pekerjaan (Job) itu tidak sama dengan Karier (Career). Menurut Rene, pekerjaan adalah sekadar kendaraan yang bisa membawa kita ke satu tempat yang kita kehendaki.

Sebaliknya karier adalah perjalanan itu sendiri. Kita bisa saja punya banyak pekerjaan dalam karier, bisa juga kita mengalami pergantian profesi didalamnya. Jangan pernah melihat karier sebagai garis lurus, karena ia sesungguhnya erratic (tidak punya patron yang normal). Karier boleh dibilang sebagai totalitas kehidupan profesional seseorang. Jadi tidak semata-mata terkait dengan cara-cara memperoleh penghidupan. Karier berhubungan dengan passion, tujuan hidup, values dan motivasi dalam berkarya untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan. Tujuan karier tidak lain adalah kebahagiaan (happiness) dan ketercapaian (fulfillment). Dalam pandangan Rene, Your Career is yours. Your career is YOU.

Karier tidak seperti pekerjaan atau job – yang notabene milik perusahaan. Karier adalah milik kita sendiri. We are the boss of our own career, karena tidak ada yang bisa memecat kita dari karier kita sendiri. Job lebih banyak bicara soal tujuan perusahaan, job description, lingkungan kerja dan kompensasi. Sebaliknya, karier mengungkap urusan passion, tujuan hidup individu, values, fulfillment, dan happiness.

Selama ini banyak kita temui orang-orang yang menggunakan ukuran karier berupa rupiah yang masuk ke rekening banknya setiap akhir bulan. Mereka itu refleksi kariernya adalah UANG. Jadi kalau jumlah uang yang masuk tidak sesuai dengan harapannya, mereka akan menganggap bahwa kariernya stagnan alias mandek. Kelompok ini menganggap bahwa kepindahan kerja ditentukan oleh prosentase kenaikan gaji yang diterima. Lucunya mereka terkesan tidak mengakui akan hal itu. Kalau ditanya soal alasan kepindahan kerjanya, akan dijawab bahwa mereka menginginkan CHALLENGE atau TANTANGAN yang lebih besar, yang baru. Padahal kalau mau jujur, “tantangan” itu kan sinonim dari “more money”. Inilah yang dikritisi oleh Rene dalam bukunya.

Buku Your Job it’s NOT your career membuat ingatan saya melayang kembali kepada situasi ketika saya mulai memasuki dunia kerja di akhir tahun 1981 lalu. Memasuki dunia kerja untuk kali yang pertama memang membuat saya begitu antusias dan menikmati detik demi detik pengalaman di ruang lingkup yang baru tersebut. Saya tidak mengenal istilah TGIF, malah mungkin bisa masuk kelompok TGIM (Thanks God, it’s Monday) kalau istilah ini digunakan.

Apakah behavior ini merupakan suatu anomali? Rasanya sih tidak, karena sejumlah teman-teman yang berbarengan masuk kerja, juga mengalami fenomena yang sama. Malah kadang kita secara sukarela masuk kantor di hari Sabtu. Ini sesuatu yang mungkin ditabukan oleh kelompok yang menganut prinsip TGIF. Spirit dan semangat kerja seperti diatas ternyata terus berlanjut dan berkepanjangan hingga belasan tahun, sementara banyak rekan-rekan sekerja saya yang telah berubah status menjadi alumni alias resign. Ketika itu saya tidak paham, mengapa ada orang-orang yang memilih untuk meninggalkan gelanggang. Bagi saya aktivitas pekerjaan itu ibarat gelanggang, dimana kita berperan sebagai gladiatornya. Kita tampil ke gelanggang untuk beraksi membela kelompok (perusahaan) tempat kita bernaung. Dan tentu saja kita akan memperoleh imbalan atau reward kalau kita berhasil mengusir atau menjatuhkan lawan. Sayangnya kita lupa bahwa di dunia ini tidak ada yang langgeng. Things are changing, itu kata para pakar. Dan itulah barangkali salah satu pemicu eksternal yang bisa membuat perjalanan JOB dan CAREER yang tadinya sejalan, menjadi terganggu.

Saya selalu mengingatkan kepada teman-teman kerja maupun staf bahwa kita haruslah merasa nyaman dengan pekerjaan kita (sekalipun sebagai wira usahawan). Normalnya kita menghabiskan waktu lebih banyak untuk pekerjaan ketimbang waktu yang diberikan buat keluarga di rumah. Maka ketika kita merasa tidak nyaman di kantor, jelas situasi itu berdampak kepada kehidupan kita. Kita akan mengalami depresi dan stres yang ujung-ujungnya akan merusak kesehatan.

Saya sering blak-blakan bilang bahwa andaikata seseorang sangat mendambakan datangnya hari Jumat dan merasa depresi menghadapi masuknya hari Senin, sebaik orang tersebut mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Yang dimaksud pekerjaan lain bisa saja masih di kantor yang sama namun pindah bagian dan tanggung jawab, atau betul-betul pindah ke perusahaan lain. Dan tentu saja masih ada alasan lain yang mentrigger seseorang untuk pindah kerja, karena passion nya tidak bisa terpenuhi oleh tempat kerja dia berada saat itu. Misalnya kalau passionnya ternyata untuk berwiraswasta, let’s do it!

Bahwa karier ini ada kaitannya dengan ketercapaian dan kebahagiaan, saya juga sepakat. Tidak selamanya seseorang yang pindah kerja itu mengincar gaji yang lebih besar atau posisi yang lebih terhormat. Bagi orang normal, harga diri dan apresiasi lebih mahal harganya dari sekadar gaji tinggi.

Sampai sekarang saya masih belum paham sama orang-orang yang rela bertahan pada posisi bergengsi di perusahaan besar, sementara sehari-harinya di-”keramas” oleh atasannya. Mereka hanya bertahan karena jabatan bergengsi dan gaji besar, demi prestise dan menafkahi keluarga. Padahal agama manapun mengajarkan bahwa rezeki itu adanya di tangan Yang Maha Kuasa, Sang Pemberi Rezeki, bukan atasan atau perusahaan. Ini implisit dengan menuhankan selain dari pada Allah, suatu bentuk berhala modern yang merupakan dosa besar. Maka tatkala Anda sering mengalami sindrom “Monday sickness“, mungkin ada baiknya singgah ke toko buku untuk mencari buku diatas. Maaf kalau terkesan sebagai iklan, tapi sejujurnya saya tidak kenal dengan Rene dan merasa bahwa bukunya memang layak dibaca oleh para profesional.

TGIF, oops salah ….. Oh My God, It’s Friday (OMGIF).

Ciputat, 9 Maret 2012.

1 Comment

Filed under Inspiration